Setelah lama bersembunyi di balik alasan tidak adanya laptop, akhirnya hari ini alibi itu tak lagi bisa digunakan :')
Telah lelah rasanya suami memotivasi saya kembali menulis, bahkan tak jarang sampai membujuk-bujuk. Kadang saat saya mengungkapkan sesuatu lintasan pikiran, beliau tiba-tiba bersorak "bagus tuh dek kalau diolah jadi tulisan." Dan saya tak pernah terlalu serius menanggapi hingga akhirnya zainudin pun lelah :-D
Kini tak boleh lagi ogah-ogahan menulis hanya karena ketiadaan laptop karena dia sudah kembali dalam pelukan. Notebook hijau yang selalu setia menemani saat zaman kuliah dulu, alhamdulillah dia sudah ikutan terbang ke Makassar. Ada rasa rindu, terharu, menggebu-gebu campur aduk jadi satu.
Doakan ya shalihin shalihat, agar hari saya makin produktif bersamanya...
Banyak hal terlewatkan, semuanya pergi tanpa ada jejak tulisan. Kontemplasi yang terlalu lama juga tak baik. Karena waktu terus berpacu dan usia terus melaju. Semoga untaian kata di sini bisa menjadi sesuatu, sesuatu yang hanya ditujukan pada Dia Yang Satu.
Bismillah
Kenangan Trimester Pertama
![]() |
| Sumber Gambar : Playstore |
naah, apa latar belaakang munculnya tulisan ini ? awalnya ada teman yang anaknya sudah hampir 1 tahun, berbagi pengalaman kehamilannya dulu. Namanya hamil dan itu kehamilan pertama,, jadi kondisi psikologis bener-bener sedang labil. Bagaimana seringnyaa omongan temen yang kadang cuma celetukan biasa terpahami sebagai sesuatu yang merusak mood di kala hamil. Belum lagi babies blue pas awal-awal melahirkan.
Daaaan saya pun berbagi tentang kisah ini. Maksud dan tujuan awalnya adalah agar kalau ada omongan sekitar yang kita rasa kurang pas di hati, coba direnungi lagi..introspeksi diri lagi. Bisa jadi kita saja yang lagi sensi.. Masak iya, contohnya, temen saya itu usia anaknya sudah mau 1 tahun, tapii masih saja menyimpan rasa sensi yang dulu waktu hamil ituu. Sudahlah yuk dilupakan :)
Itu sih, maksud saya. Sama sekali tak ada keinginan untuk misalnya menjelek-jelekkan kesukuan tertentu. Sebenernya masalah ibu hamil begini bisa terjadi di manaa saja.
Mohon maaf yang setulus-tulusnya kalau ada teman-teman yang merasa postingan kemarin mengarah ke SARA. Sedikit pun ga ada maksud begitu. Semoga bisa saling memaafkan, aamiin
"Saat orang lain salah paham tentang dirimu, sedangkan engkau tak mampu menjelaskannya. Maka satu hal yang mungkin mampu menghiburmu : sesungguhnya aku tidak akan dihisab oleh Allah karena prasangkamu, tapi akan diadili olehNya atas kenyataan perbuatanku"
ini dia postingannya dipindah ke sini. Sayang kalau dihapus. Semoga maksud dan tujuan yang murni untuk kebaikan bisa sampai ke sidang pembaca semua ya..
Duduk di ruang makan (pantry) kantor, ditanya seorang Ibu: "umurmu brpa waktu menikah, widya?"
"23 kurang sedikit Buk.."
"Sama kayak saya, tapi saya dulu langsung hamil hihihi.."
Tersenyum kecut saja menanggapi Ibu, walaupun hati dan pikiran saya menerawang jauh memikirkan apa tafsiran kalimat terakhir Ibu ini. Hmm, apa karena saya belum hamil setelah 2 bulan menikah? Memang harus langsung hamil ya, kan kami-saya dan suami- masih baru kenal. Hehehe ya sudahlaaah~
Satu setengah bulan setelah kejadian itu, saya sering mual dan pusing di kantor. Mungkin karena kondisi fisik yg tidak enak, hati jadi makiiin peka.
"Widya, kamu jangan pusing terus. Saya dulu waktu hamil bisa ttp main badminton, lari2 lapangan bola" Ibu satu
"Saya ga pernah yg namanya pusing waktu hamil, sehat terus. Makan juga kuat" ibu satunya di lain hari saat nafsu makan saya bermasalah
Puncaknya saat pening dan berat sekali kepala, lalu istirahat tidur.. Ada yg mendorong-dorong kursi dengan keras. Saya sontak terbangun, disambut seruan si ibu "kau itu jangan manja"
Waduh..sepertinya ada yg luka di dalam hati meñdengar ucapan selantang itu. Tiba2 meleleh sudah mata saya yang hari sebelum-sebelumnya hanya kaca.
Kadang tak jarang pulang dg tangisan berderai, tumpah di hadapan pak suami. Tapi ya akhirnya di sinilah kita naak (sambil elus perut)..berusaha memahami tafsiran terbaik dari sikap, ucapan lingkungan kita. Banyak introspeksi diri juga.
Mungkin maksud mereka baik, kita yang trlalu perasa. Biar kita kuaat.. Hayuk anakku sayang, bantu ibumu lebih tangguh. Selalu husnuzhan, dan tetap semangat.
I think positive, I get positive things.. Kata seorang Mb, writing is healing. Ditiru y mb, terapi menulis untuk mengobati hati. Walau gerimis juga menuangkan ini, tapi lega insya Allah.
Ah iya, kalau ada yg salah sama kita..kata seorang mb itu juga, jangan biarkan dipahat dalam. Maafkan, maafkan, maafkan :)
Siapa sih di dunia ini yg ga punya salah, iya kan? ^^
Cuma seringkali memaafkan itu butuh waktu :')
Tadi masih di masjid tempat shalat gerhana, banyak ibu-ibu yg menenangkan anaknya. Saya masih menunda pulang karena merasa sedikit pegal. Memang ya faktor usia, kakinya gampang capek :"D
Sedikit menunda pulang ini saya memperhatikan sekitar, ibu-ibu yg mengelus anaknya. Anak yg tadi rewel ditinggal shalat oleh ibunya.
Saya jadi merenung lagi..Ibu. Saat Ibu yg senang sekali main badminton di kantor, mengatakan: "kalau ada makanan yg sudah sampai di mulutku, lalu diminta anakku..pasti akan saya berikan.."
Begitukah ibu?
"Makanya kita ga boleh durhaka sama ibu, widya, susah toh jadi Ibu itu?" Kata Ibu lain
Saya menggangguk kuat, ini belum apa-apa tapi rasanya sudah subhanallah.
Ibu di kantor yg memasakkan teri medan setoples disuruh bawa pulang saat saya selalu mual. Ibu di kantor yg memberikan minyak gosok Malaysia miliknya karena saya eneg di perjalanan. Ibu yg meletakkan jeruk dan jagung di loker diam-diam karena tau saya suka. Ibuuuu..tiba-tiba saya menyesal, yg saya ingat belakangan hanya yg jelek karena sayanya saja yg overdosis sensitif.
Masih banyak kebaikan yg saya lupa. Bukan tentang ucapan pedas atau wajah keruh melihat saya yang pesakitan, beliau membangunkan dan saya disuruh pindah k matras agar tak masuk angin.
Ibu yang memberikan dua kotak keripik pisang manis. Ibu yg memberikan tumpangan.
Ibu-ibu itu perempuan, yg pasti juga perasa. Tak mungkin melukai. Widya sayaang, sekarang lihaat berapa kebaikan tak terhitung di sekelilingmu.
Siapa yg sebenernya butuh dimaafkan.. Langit di luar belum terlalu terang, gerhana sebagian
Tapi hatimu sudah lebih cemerlang, ayuuuk jalan pulang :))
Pekerjaan Sesuai Passion
![]() |
| Sumber : Passiontest |
Dulu bisa menanti mentari pagi dengan ngapal sambil jalan ke Mifan, beli kacang ijo, tinggal pulang waktu dhuha untuk sekalian setoran. Sekarang jujur saja saya sering merasa ngos-ngosan.
Ketika di satu pagi, jam 6 lewat beberapa menit, cila minta dimandikan dulu. "Aduh dek, kakak sudah telat"
Jam segini sudah telat kak ? katanya kecewa. Wajah cemberutnya, yang membayangi pikiran saya seharian di kantor. Itu adik sepupu, entah nanti kalau anak sendiri.
Ini sebenarnya lebih pada pergulatan batin akan tetap menjadi wanita bekerja nantinya atau menjadi ibu rumah tangga saja.
Tapi di sinilah saya kini, masih pegawai OJT yg setia menanti penempatan daerah.
Sampai tiba di satu seksi, dengan pekerjaan mengurusi gaji. Dan saya di bagian itu, di waktu yang sangat amat tepat. Menjelang penerimaan gaji 13. Sejuta kali sehari rasanya menghadapi pertanyaan yang sama.
"Sudah bisa memasukkan SPM untuk gaji 13 ?"
Aduh, belum pak/buk..ketika itu
Tapi jujur saya merasa bahagia menjelaskan ihwal gaji 13 bulan lalu. "Maaf ya mbak, jangan bosan ya, kata mereka. Kita di kantor juga ditanya-tanya soalnya."
Wajah bapak ibuk pengantar SPM gaji ini justru menjadi hiburan sendiri..bahwa mereka sekedar penyambung lidah kawan-kawannya.
Lahir dari mama papa yang juga PNS, bisa sekolah gratis SMP, SMA, kuliah dengan dana pemerintah. Di titik itu, saya jadi senang bisa menjadi salah seorang insan perbendaharaan. Dulu masih SD/SMP, sumringah sangat saat papa gajian lalu memberi saya kepingan terkecil uang gajinya. Sampai kini menjadi kenangan terindah sepanjang masa. (Mhd Hanif Syamri)
Hari ini, bersama kesyukuran bisa menjadi pegawai perbendaharaan dan bolak-balik hati ingin menjadi wanita rumah tangga saja, berharap semoga semuanya bernilai ibadah di sisiNya. Dengan seluruh ngos-ngosan ini, semoga kita (saya) lebih baik lagi mendisiplinkan segalanya. Cita-cita kita sama, membangun peradaban yang lebih bercahaya.
Dan semoga Dia dan dia ridha.
Tak terasa, mobil yang saya tumpangi sudah parkir di kantor ternyata. Kerja kerja kerja :')
Jam segini sudah telat kak ? katanya kecewa. Wajah cemberutnya, yang membayangi pikiran saya seharian di kantor. Itu adik sepupu, entah nanti kalau anak sendiri.
Ini sebenarnya lebih pada pergulatan batin akan tetap menjadi wanita bekerja nantinya atau menjadi ibu rumah tangga saja.
Tapi di sinilah saya kini, masih pegawai OJT yg setia menanti penempatan daerah.
Sampai tiba di satu seksi, dengan pekerjaan mengurusi gaji. Dan saya di bagian itu, di waktu yang sangat amat tepat. Menjelang penerimaan gaji 13. Sejuta kali sehari rasanya menghadapi pertanyaan yang sama.
"Sudah bisa memasukkan SPM untuk gaji 13 ?"
Aduh, belum pak/buk..ketika itu
Tapi jujur saya merasa bahagia menjelaskan ihwal gaji 13 bulan lalu. "Maaf ya mbak, jangan bosan ya, kata mereka. Kita di kantor juga ditanya-tanya soalnya."
Wajah bapak ibuk pengantar SPM gaji ini justru menjadi hiburan sendiri..bahwa mereka sekedar penyambung lidah kawan-kawannya.
Lahir dari mama papa yang juga PNS, bisa sekolah gratis SMP, SMA, kuliah dengan dana pemerintah. Di titik itu, saya jadi senang bisa menjadi salah seorang insan perbendaharaan. Dulu masih SD/SMP, sumringah sangat saat papa gajian lalu memberi saya kepingan terkecil uang gajinya. Sampai kini menjadi kenangan terindah sepanjang masa. (Mhd Hanif Syamri)
Hari ini, bersama kesyukuran bisa menjadi pegawai perbendaharaan dan bolak-balik hati ingin menjadi wanita rumah tangga saja, berharap semoga semuanya bernilai ibadah di sisiNya. Dengan seluruh ngos-ngosan ini, semoga kita (saya) lebih baik lagi mendisiplinkan segalanya. Cita-cita kita sama, membangun peradaban yang lebih bercahaya.
Dan semoga Dia dan dia ridha.
Tak terasa, mobil yang saya tumpangi sudah parkir di kantor ternyata. Kerja kerja kerja :')
Selamat Ulang Tahun Mama
![]() |
| Sumber : Aduba.co |
"Iya" dijawab dengan suara (pura-pura) mengantuk :'D
Mama, widya juga bingung untuk berlama-lama dengan ucapan selamat tadi.
Setelah doa ala kadarnya, telpon ditutup, barulah tangis itu jatuh satu
satu.
Mama ingatkah pernah wdya
katakan, setsiqah dan seyakin apapun widya pada orang lain..pasti wdya
lebih yakin pada pilihan mama. Setiap widya merasa jatuh dalam
menghapal, merasa tak pantas: mengingat wajah mama dan papa adalah obat
paling manjur sedunia untuk mengumpulkan kepercayaan diri
lagi..menyabar-nyabarkan hatii, dan berusaha tak peduli pada rasa sulit.
Bertanya padaNya: sesakit inikah rasanya jalan menuju surga, bagi orang seperti saya ?
Tapi senyum mama adalah penawar rasa sakitnya, semangat itu kembali membaru dan membara.
Mama, tak jarang widya keras kepala, terlihat seperti menentang harapan mama: di hati widya selalu ada penyesalan ketika beda pendapat di antara kita. Mama, maafkan widya, anak sulung mama yg masih compang-camping dalam baktinya. Doakan widya ya ma
Sembah sujud putrimu..yang kau besarkan dengan penuh cinta. Putrimu, yang mendamba mahkota cahaya untukmu di surga
Bertanya padaNya: sesakit inikah rasanya jalan menuju surga, bagi orang seperti saya ?
Tapi senyum mama adalah penawar rasa sakitnya, semangat itu kembali membaru dan membara.
Mama, tak jarang widya keras kepala, terlihat seperti menentang harapan mama: di hati widya selalu ada penyesalan ketika beda pendapat di antara kita. Mama, maafkan widya, anak sulung mama yg masih compang-camping dalam baktinya. Doakan widya ya ma
Sembah sujud putrimu..yang kau besarkan dengan penuh cinta. Putrimu, yang mendamba mahkota cahaya untukmu di surga
Dia dan Al-Quran
| Sumber : Photobucket |
pertanyaan dari
saya untuk seorang kakak peserta terbaik MQAN kemarin. Kakak yg
di-taukhti-kan dg saya. Kakak yg trnyata juga orang Pariaman. Kakak yg
saya menjadi satu-satunya adeknya..,krn yg lain memanggilnya dg sebutan
ustadzah/ibuk. Kakak yang, sudah dua orang nyeletuk saat kami bersama.."anaknya ya buk"
Pertanyaan saya yang bertubi-tubi tadi dijawab oleh beliau: kita bisa melakukan itu semua karena ada cinta. Cinta yg membuat kita mau berkorban. Betah berlama-lama..bersama surat cintaNya
Kini sudah 21 Ramadhan. Terlintas kalimat ustadzah Nurjanah dlm tarhib Ramadhan, nyaris sebulan lalu.. 'Jangan-jangan hubungan kita dengan Al Quran selama ini hanya sebatas hubungan basa-basi'
Rabbi, jadikan Quran bagai hujan musim semi di hati kami,bukan hanya basa-basi.
Pertolongan Al-Quran di Alam Kubur
Dari Sa’id bin Sulaim ra, Rasulullah SAW bersabda: “Tiada penolong
yg lebih utama derajatnya di sisi Allah pada hari Kiamat daripada
Al-Qur’an. Bukan nabi, bukan malaikat dan bukan pula yang lainnya.”
(Abdul Malik bin Habib-Syarah Ihya).
Bazzar meriwayatkan dalam
kitab La’aali Masnunah bahwa jika seseorang meninggal dunia, ketika
orang - orang sibuk dgn kain kafan dan persiapan pengebumian di
rumahnya, tiba -tiba seseorang yang sangat tampan berdiri di kepala mayat. Ketika kain kafan mulai dipakaikan, dia berada di antara dada dan kain kafan.
Setelah dikuburkan dan orang - orang mulai meninggalkannya, datanglah 2
malaikat. Yaitu Malaikat Munkar dan Nakir yang berusaha memisahkan
orang tampan itu dari mayat agar memudahkan tanya jawab.
Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.”
Lalu ia berpaling kepad sahabatnya dan berkata,”Aku adalah Al quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan.
Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”
Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la. (Himpunan Fadhilah Amal : 609)
Allahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita.
Allah…terimalah bacaan Al-Quran kami. Sempurnakanlah kekurangannya.
Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah SWT. Aamiin...
Prof. DR. Ahmad Sathori Ismail.
Tetapi si tampan itu berkata: ”Ia adalah sahabat karibku. Dalam keadaan bagaimanapun aku tidak akan meninggalkannya. Jika kalian ditugaskan utk bertanya kepadanya, lakukanlah pekerjaan kalian. Aku tidak akan berpisah dari orang ini sehingga ia dimasukkan ke dalam syurga.”
Lalu ia berpaling kepad sahabatnya dan berkata,”Aku adalah Al quran yang terkadang kamu baca dengan suara keras dan terkadang dengan suara perlahan.
Jangan khawatir setelah menghadapi pertanyaan Munkar dan Nakir ini, engkau tidak akan mengalami kesulitan.”
Setelah para malaikat itu selesai memberi pertanyaan, ia menghamparkan tempat tidur dan permadani sutera yang penuh dengan kasturi dari Mala’il A’la. (Himpunan Fadhilah Amal : 609)
Allahu Akbar, selalu saja ada getaran haru selepas membaca hadits ini. Getaran penuh pengharapan sekaligus kekhawatiran. Getaran harap karena tentu saja mengharapkan Al-Quran yang kita baca dapat menjadi pembela kita di hari yang tidak ada pembela. Sekaligus getaran takut, kalau-kalau Al-Quran akan menuntut kita.
Allah…terimalah bacaan Al-Quran kami. Sempurnakanlah kekurangannya.
Banyak riwayat yang menerangkan bahwa Al-Quran adalah pemberi syafa’at yang pasti dikabulkan Allah SWT. Aamiin...
Prof. DR. Ahmad Sathori Ismail.
Pilihan
"Saya nanti izin pulang duluan ya ustadzah. Saya jadi peserta saja, saya ga bisa jadi musyrifah. Ada tugas yang belum selesai"
Siap-siap pulang, melihat ibu muda yang menggantikan posisi saya bersiap menyimak sambil menyusui bayinya..
Langsung urung angkat barang. Malu mengangkat wajah lagi. Hari ini teguran lembut itu..
Ada orang yg belum punya amanah berupa keluarga, lalu merasa paling
sibuk sedunia. Ada yang sudah berkeluarga, lalu terlena dengan kehidupan
rumah tangganya. Tapi tetap ada, orang-orang penuh cinta, yang dengan
sejuta agenda-waktunya penuh keberkahan bisa melaksanakan seluruh
kesibukan yang membuat Dia ridha. Dengan tatapan meneduhkan, senyum yang
sejuk. Secara tak langsung menampar orang berhati lemah di hadapannya.
Hidup ini pilihan. Apa pilihan kita ?
Aisya, Gadis Pemimpin Kebaikan
Aisya amiratul khaira, gadis cerdas pemimpin kebaikan.. Diam-diam
Nana selalu merindukan aisya, walaupun tak pernah menelpon. Walaupun tak
pernah membalas SMS aisya..karena mata sudah berembun duluan saat
membaca SMS aisya. Bahkan aisya jauh lebih romantis dibanding nana :'D
Dan setiap jalan juang yg kutapaki, berharap kelak juga kau tempuhi. Sukses ujiannya hari ini, calon hafizhah kami..
Mama
"Ma, nanti kalau Nana lahiran gimana ma ?" Obrolan via telpon dengan
Mama berbulan-bulan lalu. Mungkin dalam hati beliau, Ini memang repot
punya anak kayak begini, nikah juga belum tapi sudah tanya lahiran..
Lalu dijawab setengah menggoda, "nanti kalau lahiran kan sudah ada suami berarti, ga perlu mama lagi."
Mama, kapan kah masanya seorang anak tak membutuhkan ibunya lagi ? Apalagi untuk anak semanja widya ini.
Lalu dijawab setengah menggoda, "nanti kalau lahiran kan sudah ada suami berarti, ga perlu mama lagi."
Mama, kapan kah masanya seorang anak tak membutuhkan ibunya lagi ? Apalagi untuk anak semanja widya ini.
Dan kata-kata sederhana pagi ini yang membuatku meleleh, "semangat ya nak"
Mama, bisakah aku menjadi ibu ? Ibu, yang tak hanya kuat tapi juga menguatkan..yang tak hanya kukuh, tapi meneguhkan..
Mom, I'm still your five year old girl. I see no wisdom on my eyes (elfa)
Mama, bisakah aku menjadi ibu ? Ibu, yang tak hanya kuat tapi juga menguatkan..yang tak hanya kukuh, tapi meneguhkan..
Mom, I'm still your five year old girl. I see no wisdom on my eyes (elfa)
Papa
Di perjalanan ke kantor, lamunan terbang sampai ke rumah. Sampai pak Hanif bertanya: "bapak kamu kelahiran tahun berapa ?"
63 pak, kalau mama 68.. Jawab saya sambil tersenyum. Kok bisa sama isi pikiran tentang orangtua dg pertanyaan pak Hanif.
"Sama kayak saya dan istri"
Di hari yang sama di perjalanan pulang, macet di jalanan Jakarta.
Menangkap wajah bapak yang tak tau mengapa membuat menangis diam-diam
sepnjang jalan. Bayangan papa mengantar ngaji, melepas pergi..
Berapa kali lagi harus widya mengecewakan papa? Papa sayang, doakan widya..besok diklatnya lancar mudah-mudahan. Dan segalanya dimudahkan
Berapa kali lagi harus widya mengecewakan papa? Papa sayang, doakan widya..besok diklatnya lancar mudah-mudahan. Dan segalanya dimudahkan
Dakwah dan Keluarga
Kata sang guru..orang yang baik itu pertama sekali seharusnya bisa
menularkan kebaikan pada orang sekitarnya, terutama keluarga. "Buat
keluarga kita memahami maksud baik kita, minimal mereka paham dg
cita-cita kita"
Salutlah pada orang yang mampu mengondisikan
keluarganya. Bukan hanya sekedar koar-koar di luar, tapi kemudian tak
berkutik pada komunitas terdekatnya sendiri..khususnya keluarga.
Allah,,, mampukan kami dg perintahMu: Quu anfusakum wa ahlikum naara. Bahkan untuk menjaga diri dari neraka dgmencoba meninggalkan perkara adat dunia yang mungkin saja tak ada faidahnya di mataMu..
Karena keluarga adalah mereka yg bisa menerima diri kita, seutuhnya.
Bersama Para Penjaga Wahyu
Walaqad yassarnaa Al Quraana lidz dzikri, fahal min muddakir (QS. Al Qamar : 17, 22, 32, 40)
Bahkan
Allah ulangi empat kali jaminan serta garansi kemudahan menghapal Al
Quran dalam surah Al Qamar (juz 27). Dalam Mukhayam Quran Akhwat
Nasional akhir Agustus lalu, ust Abdul Aziz bercerita tentang juz 27.
Siapapun
yang pernah mencoba menghapal juz 27 pastilah merasakan bahwa juz ini
termasuk juz yang ramah karena ada beberapa surat yang sudah familiar
seperti Ar Rahman dan Al Waqi'ah :)
Awalnya Ad Dzariyat,
lalu Ath Thuur, kemudian An Najm. Biasanya sesampai di Al Qamar akan
sedikit kewalahan. Al Qamar menjadi bonus mujahadah bagi para penghapal
karena cukup terbilang sulit. Ketika menyetorkan surat ini di An Nashr
kepada ustadzah Ari, saya diminta lebih memperhatikan huruf 'ra' di
akhir ayat, mana yang tasydid mana yang bukan. Agar lebih hati-hati dan
teliti membedakan mana yang harusnya dibaca lebih ditekan mana yang
biasa saja, belum lagi tafkhim tarqiqnya. Hmm, memang Al Qamar itu
sesuatu :')
Selain itu, Al Qamar ini banyak bercerita
tentang azab. Dan untuk menyelingi azab para umat terdahulu itulah Allah
selipkan berita kemudahan menghapal Quran. Seharusnya kita heran,
ketika berpeluh-peluh menyempurnakan hapalan Al Qamar tapi Allah katakan
mudah. Kita bisa jadi bingung, terengah-engah melafal Al Qamar justru
Allah tekankan berkali-kali bahwa itu mudah.
Tapi
benarlah, setelah merasa berdarah-darah melancarkan Al Qamar, lalu Allah
hibur dengan surah selanjutnya Ar Rahmaan..'Allamal Quraan. Seketika
kita bergumam, Allah, Engkau tak menyalahi janjiMu. Hamba sampai di
surah ini, sejuuk
Hingga berulang kali dalam surah itu ditanyakan "maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
di
lingkaran kami semasa kuliah, sang murabbi berkisah. Ibunda Yoyoh
Yusrah yang bertemu ummahat Palestina ditanya: "berapa jumlah anakmu?"
Wajar karena memang para ibu di sana saling berlomba membanyakkan anaknya untuk diwakafkan di jalan dakwah.
"tiga belas orang" jawab ibu Yoyoh.
kemudian ditanya lagi: "berapa jumlah hapalanmu?"
ibu Yoyoh : "20 juz" ketika itu hapalannya baru dua-pertiganya Quran.
"dua
puluh juz? apa saja kerjamu di negeri seaman Indonesia?" sengat sang
ummahat Palestina. Tanya retoris yang begitu menyentak ibu Yoyoh dan
mungkin siapa saja yang ada di nusantara ini. Ibu Yoyoh segera
menuntaskan hapalannya.
Ibu Yoyoh, srikandi dakwah negeri
ini telah berpulang. Dakwah ini terus menanti kelahiran permata dakwah
baru. Malulah kita pada almarhumah yang jumlah anaknya 13 orang. Kita
belum dititipi amanah seberat beliau tapi amal kita masih jauuhhh. Malu
juga pada saudara kita di Palestina, dengan segala kenyamanan di negeri
ini masih terlalu berpandai-pandai membuat berjuta pembenaran atas
kealpaan kita.
dan terlebih, malu pada Allah yang bertanya Maha retoris..
Walaqad yassarnaa Al Quraana lidz dzikri, fahal min muddakir ?
And We have certainly made the Qur'an easy for remembrance, so is there any who will remember ?
disusul tanya lain berikutnya: maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?"
#AYTKTM
Apapun Yang Terjadi, Kita Tetap Menghapal
Perlahan,
menyabar-nyabarkan diri.. Yuk, melangkah berangkat menghapal Quran
karena percaya pada janji Allah, juga karena sebentuk rasa syukur atas
nikmat yang Allah berikan.
Maka,
Jangan tanyakan "kenapa sih kita harus menghapal ?" tapi tanyakan "kenapa kita masih malas-malasan menghapal ?"
-disambut adzan Magrib bumi minang, alhamdulillah..
Bahagia Diatas Bahagia
Seorang kakak luar biasa pernah mengingatkan: "bahkan maksiat-maksiat kita masih saja berbalas karuniaNya"
Karunia. Satu kata yang oleh kita telah menyempit maknanya. karunia
seolah-olah hanya terbatas pada apa yang disukai dan membuat bahagia.
padahal karunia itu semuanya. segala yang membuat kita semakin dekat
denganNya layak disebut karunia. Tetap bernama karunia, walaupun ia
datang dalam wujud airmata.
Semoga kita tak pernah lelah belajar rela pada Allah...
"Tak mengapa, duhai Allah, asalkan ini membuat kami semakin merasa kecil di hadapanMu.."
"Tak mengapa, duhai Allah, asalkan ini membuat kami semakin merasa kecil di hadapanMu.."
Ibu Jelita
Pernah diberi hadiah cantik
oleh senior di Rumah Quran STAN, sebut saja namanya mb Ocky :) Catatan
Hati Seorang Istri. Setelah membacanya, kak Linda bilang: kakak paling
suka cerita yang ini. Kalau widya suka yang ini kak. Sampai Atika
menunjukkan bagian cerita yang paling berkesan.
Kalau tidak salah ingat, ada kalimat di dalam cerita favorit Atika: "Dulu, kupikir hal paling membahagiakan itu adalah menikah dengannya. Menyerahkan kepemimpinan atas diriku kepadanya. Menggenapkan separuh agama. Ternyata ada hal yang jauh lebih membahagiakan di atas itu; ketika aku bertaruh nyawa melahirkan janin dari rahimku. Jihadnya seorang ibu."
Kurang lebih gitulah, bagian paling disukai Atika.
Tadi pagi sms dari seorang sahabat: udah masuk 9 bulan, ammah. Doakan yaa
Rasanya lama tak bertemu, batal hadir di hari dia dinikah. Mengurungkan niat menulis bait-bait selamat karena kecewa tak jadi bisa bermalam sebelum ia menjadi seorang istri. Dan sebentar lagi, sudah akan resmi menjadi ibu. Teringat materi ustadz Salim A Fillah di Stania Fair menggarisbawahi bahwa sabda nabi yang mengatakan surga di bawah telapak kaki ibu, bukan di bawah telapak kaki perempuan. Ada syarat bagi seorang perempuan untuk mempunyai surga: menjadi ibu.
Bertandang ke rumah seorang kakak usai TKD kemarin, binar di wajahnya juga sama. Menghitung hari menjelang kelahiran buah hati yang dinanti. Ada satu hal yang sedang belajar saya pahami; mengapa ketika di sana ada perjuangan yang berat dan pengorbanan yang besar, mereka justru menantinya?
Ibu.
Benarlah yang mengatakan Dan belum sempurna jelitamu sahabat, sebelum mengalahkan seribu sakit berhimpun, tulang berlolosan, syaraf tercabik, robekan pedih, darah bersimbah, namun tetap tersenyum untuk janin yang kau lahirkan. Subhanallah, bila ini ukuran cantik itu sahabat, takkan ada kata yang mampu saingi oleh jelita-jelita surgawi itu selamanya.
Untuk para ibu dan calon ibu, selamat berjuang.. Mencoba memahami dari harap cemas penantiannya, mencoba ikut meresapi perasaan seorang calon ibu. Walau mengerti, tentu masih belum mampu benar-benar menyelami kedalaman jiwa mereka.
Dan yang belum akan jadi ibu, semoga kita bisa memaksimalkan birrul walidain pada ibu di rumah. Membahagiakan ibu untuk segenap pengorbanan dan kasih sayangnya.
ibu.
Kalau tidak salah ingat, ada kalimat di dalam cerita favorit Atika: "Dulu, kupikir hal paling membahagiakan itu adalah menikah dengannya. Menyerahkan kepemimpinan atas diriku kepadanya. Menggenapkan separuh agama. Ternyata ada hal yang jauh lebih membahagiakan di atas itu; ketika aku bertaruh nyawa melahirkan janin dari rahimku. Jihadnya seorang ibu."
Kurang lebih gitulah, bagian paling disukai Atika.
Tadi pagi sms dari seorang sahabat: udah masuk 9 bulan, ammah. Doakan yaa
Rasanya lama tak bertemu, batal hadir di hari dia dinikah. Mengurungkan niat menulis bait-bait selamat karena kecewa tak jadi bisa bermalam sebelum ia menjadi seorang istri. Dan sebentar lagi, sudah akan resmi menjadi ibu. Teringat materi ustadz Salim A Fillah di Stania Fair menggarisbawahi bahwa sabda nabi yang mengatakan surga di bawah telapak kaki ibu, bukan di bawah telapak kaki perempuan. Ada syarat bagi seorang perempuan untuk mempunyai surga: menjadi ibu.
Bertandang ke rumah seorang kakak usai TKD kemarin, binar di wajahnya juga sama. Menghitung hari menjelang kelahiran buah hati yang dinanti. Ada satu hal yang sedang belajar saya pahami; mengapa ketika di sana ada perjuangan yang berat dan pengorbanan yang besar, mereka justru menantinya?
Ibu.
Benarlah yang mengatakan Dan belum sempurna jelitamu sahabat, sebelum mengalahkan seribu sakit berhimpun, tulang berlolosan, syaraf tercabik, robekan pedih, darah bersimbah, namun tetap tersenyum untuk janin yang kau lahirkan. Subhanallah, bila ini ukuran cantik itu sahabat, takkan ada kata yang mampu saingi oleh jelita-jelita surgawi itu selamanya.
Untuk para ibu dan calon ibu, selamat berjuang.. Mencoba memahami dari harap cemas penantiannya, mencoba ikut meresapi perasaan seorang calon ibu. Walau mengerti, tentu masih belum mampu benar-benar menyelami kedalaman jiwa mereka.
Dan yang belum akan jadi ibu, semoga kita bisa memaksimalkan birrul walidain pada ibu di rumah. Membahagiakan ibu untuk segenap pengorbanan dan kasih sayangnya.
ibu.
Dakwah Yang Kucinta
Kuliah Munakahat bersama ustadz Masturi dulu, ada wejangan beliau:
"jangan sekali-kali mencintai secara membabi buta. Babi saja sudah
haram, apalagi babi buta"
kawan-kawan, ini tentu
bukan kode atau sedang galau. Hanya belakangan sering membaca artikel
yang khawatirnya melemahkan semangat tulus beberapa sahabat. Dengan
informasi yang melimpah ruah, kalau tidak disaring benar-benar akan
membuat kepala pusing. Dan kesemuanya sangat mempengaruhi cara kita
memandang secara proporsional dan objektif.
Dalam bincang
dengan seorang kakak, beliau cerita kalau dulu sangat anti dengan
training motivasi dulunya. Menganggap bahwa hal tersebut hanya sebatas
teori tanpa aksi. Tetapi suatu hari hingga kini, beliau malah menjelma
menjadi seorang training motivator. "Karena kakak sudah punya pemahaman
baru tentang itu, dek.."
Berkaca pada diri sendiri atau
mengingat beberapa kawan, ternyata memang segala sesuatu itu bisa
berubah. Dulu orang yang kita kenal keras tiba-tiba bisa menjadi
seorang lembut. Siapa yang dulunya benci bisa menjadi cinta, begitupun
sebaliknya.. Dinamis. Kita tanpa sadar sering menilai seseorang tidak
konsisten dalam bersikap dan berucap. Banyak hal dalam dirinya berubah,
yang kita lupa bahwa beliau menemui banyak peristiwa apa yang
berangsur-angsur akhirnya merubah seratus delapan puluh derajat
pemikiriannya.
Kadang diri pribadi juga tak jarang begitu..
Ada
sakit menjalari hati saat merenungi hijrah seseorang dari ghirah
menuju futurnya.. Seketika tersentak, kini memang yang paling ampuh itu
hanya introspeksi, barangkali banyak yang tak betah dengan dakwah
karena mereka tak merasakan kesejukan tarbiyah dalam pribadi
saudara/saudarinya. Dan biarkan semua menjadi rahasia Allah hingga
semua kita terus berusaha semakin membaik dari masa ke masa.
Pernah
ada yang mendengar ada yang memaki Umar bin Khattab habis-habisan
dengan sangat kasar. Ketika diintip, ternyata Umar sendiri yang sedang
memaki dirinya.. Ah kita, dengan segala macam alasan dan pembenaran,
pastilah ada satu titik dimana kita bisa jujur introspeksi menghakimi
dan memuhasabahi hati. Dalam ruang yang hanya kita denganNya.
Seperti
cerita Ustadzah Hani di Ma'had Tarbiyah dulu, masih Umar, ketika
pendapatnya sering berbeda dengan Rasulullah dan Abu Bakr. Tapi
akhirnya Allah turunkan wahyu langit yang justru membenarkannya..
Ditariknya janggutnya di dagu, menyendiri berkaca-kaca sembari
bertanya: "Allah, sebenarnya siapa diriku ini ?"
Dalam miris menyimak curhatan seorang kawan, saya titipkan doa..
Allah, maafkan, ampuni.. jika ada saudara saudari kami yang lari dan tak betah karena gerah dengan diri yang gersang ini..
Mama & Nana
mungkin karena mama dan nana sudah sangat amat saling mengenal.
ketika nana bertanya pendapat mama tentang sesuatu, mama akan menjawab "terserah nana".. Sayangnya nana sudah sangat paham sebenarnya mama cenderung memilih apa. Dan teramat sulit mengabaikannya. Sekeping jiwa yang memang sudah terprogram untuk memilih tanpa bertanya diri sendiri.
ketika mama bertanya pendapat nana, nana akan menjawab "terserah mama". Dan sebenarnya mama sudah sangat paham nana sebenarnya inginnya apa.
ketika nana bertanya pendapat mama tentang sesuatu, mama akan menjawab "terserah nana".. Sayangnya nana sudah sangat paham sebenarnya mama cenderung memilih apa. Dan teramat sulit mengabaikannya. Sekeping jiwa yang memang sudah terprogram untuk memilih tanpa bertanya diri sendiri.
ketika mama bertanya pendapat nana, nana akan menjawab "terserah mama". Dan sebenarnya mama sudah sangat paham nana sebenarnya inginnya apa.
Istana : Markazul Quran
Pernah belajar macam-macam
majas ? Nah, di antaranya majas ironi. Salah satu contoh yang diberikan
guru bahasa Indonesia yang teringat sampai sekarang adalah kalimat
"Masuklah ke gubuk kami ini" padahal yang mendengar merasa sedang
berdiri di hadapan sebuah rumah megah.
ISTANA. Kalau kawan-kawan sempat bolang ke Padangpanjang, lalu mampir ke tempat tinggal saya di sana.. tepat di depan pintu asrama akan saya katakan: "Ahlan wa sahlan, silakan masuk ke istana kami ini"
Mungkin teman-teman hanya akan melongo menatap iba setengah prihatin dengan 'istana' yang saya katakan. Tapi percayalah teman-teman, tempat ini benar-benar sepotong firdaus yang turun dari syurga lalu mendarat tepat di lembah bukit yang sejuk. Sedikit terpencil. Yang pertama kali saya datang ke sini saja, langkah itu ragu. Benarkah ada kehidupan di bawah itu? Yang siapapun kemudian saya ajak ke sana pun reaksinya sama, bimbang untuk bisa menjejakkan langkah atau kendaraannya. Di kastil kami tercinta: Markazul Quran.
Tujuh bulan sudah saya mendekam di tempat itu. Setiap hari adalah syukur tiada henti bahwa Allah Maha Baik, Maha Menyelamatkan, Maha Memelihara diri yang sudah bingung tak tau arah kemana melangkah ini #halah :p
Setiap hari adalah semangat menggebu menatap wajah bidadari Quran yang bahkan igauan tidurnya pun hapalan terakhir yang ia miliki. Setiap hari adalah sesenggukan malu tertinggal jauh dari mereka itu. Atau kelu menyaksikan adik-adik kecil menghidupkan malam-malam bersama surat cintaNya.
di catatan ini, saya ingin bercerita tentang tiga sosok saja: Hifzhah, peri kecil anggota keluarga istana ini. Lalu Ustadz dan Umi, orangtua kami.
Suatu malam, masih jam setengah 3 pagi. Seorang adik kecil bangun lalu melipat selimutnya rapi. Setelah berwudhu, ia bertanya dengan wajahnya yang masih kemilau air wudhu : "kak ini aku shalat apa ? witir ya ?"
dengan terharu kujawab: "iya, tapi tahajjud dulu 2 rakaat"
ia masih bertanya lagi: "hmm, berapa kali kak ?"
senyum: boleh sekali atau lebih
lalu memperhatikan berdirinya yang lama. Ia shalat dua kali dua rakaat.
"kakak tadi berapa kali tahajjudnya, kak ?"
"tadi kakak empat kali.. Hifzhah baca apa aja kok lama shalatnya ?
Basah mendengar celoteh adik kelas dua itu, "rakaat satu An Naba An Naziat, rakaat duanya 'Abasa. Trus At Takwir. abis itu capek, jadi yang terakhir surat pendek hihi. Habis ini hifzhah tambah dua kali lagi ya kak biar sama kayak kakak ?"
langsung meleleh..
Ia sempurnakan 11 rakaat beserta witir. Ia usai 30 menit menjelang Shubuh, kemudian kutanyakan: "kalau hifzhah ngantuk, boleh tidur lagi. Nanti kakak bangunin.." tapi ia menggeleng, dan memilih murajaah. Iri dan cemburu dengan ringan langkahnya pada kebaikan.
Ustadz Idris dan Ummi.
Pertama kali bertemu adalah kelas 1 SMA. Pembina tahfizh di asrama.
Dulu, Imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Rasulullah yang dikerubungi banyak lalat dan Imam Bukhari dalam keadaan mengipasi Rasulullah untuk mengusir lalat dalam mimpi tersebut.Beliau pun menanyakan pada gurunya Ishaq Ibnu Rawaih apakah takwil dari mimpi tersebut..dengan takwil yang begitu menarik, sang guru menjawab :
-engkaulah yang akan membersihkan hadits Rasulullah dari kepalsuan-
Sebuah kalimat yang tertancap dalam di hatinya. Menjadi tekad yang sejak memperoleh jawaban takwil dari sang guru, Imam Bukhari memusatkan perhatiannya untuk hadits.
Teringat dulu, seperti Imam Bukhari yang tersentak dengan kalimat yang menancap, saya pun sama. Tersentak dengan kalimat ustadz: "siapa yang belum selesai juz 30 maka akan tinggal kelas.
Maka saya berangkat dengan motivasi kerdil "agar tak tinggal kelas itu". Tapi keberkahan ilmu beliau terasa merasuk hingga kini, bahkan dengan niat sekedar naik kelas pun saya rasakan kekokohan azam yang hadir setelah itu. Berpisah selama 3 tahun di kampus, selalu ada masa-masa terburuk yang membuat saya sangat terpuruk. Merasa sangat buruk. Tapi mengenang wajah beliau, ada kesejukan yang terus menyemangati. Yang membuat ingin terus kembali bangkit walau jatuh. Dan alhamdulillah kini kembali di bawah pembinaan beliau berdua lagi.
Siang tadi, dalam mimpi bertemu ustadz dan umi. Orang tua di istana kami. Kalau pulang, terasa energi yang dimiliki berkurang tak seutuh saat bersama. Tapi Allah ingatkan dengan mimpi, bahkan dalam bunga tidur tadi ustadz dan umi memberikan motivasi. Terasa alangkah berkah hidup bersama mereka, Allah jaga kokoh azam saat berjauhan lewat mimpi dengan mereka berdua. Padahal baru berpisah 4 hari.
Kalau teman-teman sempat, singgahlah ke sepotong firdaus ini. Di negeri serambi makkah padangpanjang. Istana kami: Markazul Quran.
Ramadhan, syahrul Quran..
ISTANA. Kalau kawan-kawan sempat bolang ke Padangpanjang, lalu mampir ke tempat tinggal saya di sana.. tepat di depan pintu asrama akan saya katakan: "Ahlan wa sahlan, silakan masuk ke istana kami ini"
Mungkin teman-teman hanya akan melongo menatap iba setengah prihatin dengan 'istana' yang saya katakan. Tapi percayalah teman-teman, tempat ini benar-benar sepotong firdaus yang turun dari syurga lalu mendarat tepat di lembah bukit yang sejuk. Sedikit terpencil. Yang pertama kali saya datang ke sini saja, langkah itu ragu. Benarkah ada kehidupan di bawah itu? Yang siapapun kemudian saya ajak ke sana pun reaksinya sama, bimbang untuk bisa menjejakkan langkah atau kendaraannya. Di kastil kami tercinta: Markazul Quran.
Tujuh bulan sudah saya mendekam di tempat itu. Setiap hari adalah syukur tiada henti bahwa Allah Maha Baik, Maha Menyelamatkan, Maha Memelihara diri yang sudah bingung tak tau arah kemana melangkah ini #halah :p
Setiap hari adalah semangat menggebu menatap wajah bidadari Quran yang bahkan igauan tidurnya pun hapalan terakhir yang ia miliki. Setiap hari adalah sesenggukan malu tertinggal jauh dari mereka itu. Atau kelu menyaksikan adik-adik kecil menghidupkan malam-malam bersama surat cintaNya.
di catatan ini, saya ingin bercerita tentang tiga sosok saja: Hifzhah, peri kecil anggota keluarga istana ini. Lalu Ustadz dan Umi, orangtua kami.
Suatu malam, masih jam setengah 3 pagi. Seorang adik kecil bangun lalu melipat selimutnya rapi. Setelah berwudhu, ia bertanya dengan wajahnya yang masih kemilau air wudhu : "kak ini aku shalat apa ? witir ya ?"
dengan terharu kujawab: "iya, tapi tahajjud dulu 2 rakaat"
ia masih bertanya lagi: "hmm, berapa kali kak ?"
senyum: boleh sekali atau lebih
lalu memperhatikan berdirinya yang lama. Ia shalat dua kali dua rakaat.
"kakak tadi berapa kali tahajjudnya, kak ?"
"tadi kakak empat kali.. Hifzhah baca apa aja kok lama shalatnya ?
Basah mendengar celoteh adik kelas dua itu, "rakaat satu An Naba An Naziat, rakaat duanya 'Abasa. Trus At Takwir. abis itu capek, jadi yang terakhir surat pendek hihi. Habis ini hifzhah tambah dua kali lagi ya kak biar sama kayak kakak ?"
langsung meleleh..
Ia sempurnakan 11 rakaat beserta witir. Ia usai 30 menit menjelang Shubuh, kemudian kutanyakan: "kalau hifzhah ngantuk, boleh tidur lagi. Nanti kakak bangunin.." tapi ia menggeleng, dan memilih murajaah. Iri dan cemburu dengan ringan langkahnya pada kebaikan.
Ustadz Idris dan Ummi.
Pertama kali bertemu adalah kelas 1 SMA. Pembina tahfizh di asrama.
Dulu, Imam Bukhari bermimpi bertemu dengan Rasulullah yang dikerubungi banyak lalat dan Imam Bukhari dalam keadaan mengipasi Rasulullah untuk mengusir lalat dalam mimpi tersebut.Beliau pun menanyakan pada gurunya Ishaq Ibnu Rawaih apakah takwil dari mimpi tersebut..dengan takwil yang begitu menarik, sang guru menjawab :
-engkaulah yang akan membersihkan hadits Rasulullah dari kepalsuan-
Sebuah kalimat yang tertancap dalam di hatinya. Menjadi tekad yang sejak memperoleh jawaban takwil dari sang guru, Imam Bukhari memusatkan perhatiannya untuk hadits.
Teringat dulu, seperti Imam Bukhari yang tersentak dengan kalimat yang menancap, saya pun sama. Tersentak dengan kalimat ustadz: "siapa yang belum selesai juz 30 maka akan tinggal kelas.
Maka saya berangkat dengan motivasi kerdil "agar tak tinggal kelas itu". Tapi keberkahan ilmu beliau terasa merasuk hingga kini, bahkan dengan niat sekedar naik kelas pun saya rasakan kekokohan azam yang hadir setelah itu. Berpisah selama 3 tahun di kampus, selalu ada masa-masa terburuk yang membuat saya sangat terpuruk. Merasa sangat buruk. Tapi mengenang wajah beliau, ada kesejukan yang terus menyemangati. Yang membuat ingin terus kembali bangkit walau jatuh. Dan alhamdulillah kini kembali di bawah pembinaan beliau berdua lagi.
Siang tadi, dalam mimpi bertemu ustadz dan umi. Orang tua di istana kami. Kalau pulang, terasa energi yang dimiliki berkurang tak seutuh saat bersama. Tapi Allah ingatkan dengan mimpi, bahkan dalam bunga tidur tadi ustadz dan umi memberikan motivasi. Terasa alangkah berkah hidup bersama mereka, Allah jaga kokoh azam saat berjauhan lewat mimpi dengan mereka berdua. Padahal baru berpisah 4 hari.
Kalau teman-teman sempat, singgahlah ke sepotong firdaus ini. Di negeri serambi makkah padangpanjang. Istana kami: Markazul Quran.
Ramadhan, syahrul Quran..
Antara Menulis dan Ramadhan
Hanya diam dengan wajah yang dipaksa pura-pura tak tertohok.. saat seseorang kakak bertanya: "dek, mana tulisan terakhirmu ?"
Setiap kali pulang ke rumah dan duduk di depan laptop, selalu ada semangat meluap-luap menulis. walau sekedar episode-episode kecil yang berhikmah, minimal kegiatan di Markazul Quran yang bisa memotivasi teman-teman. Hanya baru selesai mengetik beberapa kalimat, tiba-tiba moodnya hilang. Kadang sudah panjangg tapi terasa tak ada pemaknaan. Lebih sering lagi paragraf-paragraf mubadzir yang ngambang.
Sehari ini bertekad menulis apapun yang bisa ditulis. Rasanya kepala terlalu penuh dengan berbagai topik tapi tak pernah sampai pada satu konklusi yang bisa dijabarkan dengan sabar kata per kata. Mungkin karena memang belakangan kurang peka, minim informasi, jarang pegang pulpen, dan belakangan memang udah sedikit baca buku :'D
tapi meski begitu, tetap mimpi menulis itu menggebu. Walau sampai di sini di kalimat ini udah bingung sebenanrnya mau dibawa ke mana tulisan ini. hambar semua yang ditulis. Biarlah, dengan kaku dan terbata huruf demi huruf. Semoga cukup untuk menjawab tanya kakanda. Sekaligus menyapa teman-teman di penghujung Sya'ban: mohon maaf lahir dan batin atas banyak khilaf dan salah baik itu ucapan, sikap perbuatan, atau tulisan. Widya mohon maaf..
Sahabat, saling mendoakan ya, agar kita menjadi pribadi yang semakin cahaya. Bertakwa.
Setiap kali pulang ke rumah dan duduk di depan laptop, selalu ada semangat meluap-luap menulis. walau sekedar episode-episode kecil yang berhikmah, minimal kegiatan di Markazul Quran yang bisa memotivasi teman-teman. Hanya baru selesai mengetik beberapa kalimat, tiba-tiba moodnya hilang. Kadang sudah panjangg tapi terasa tak ada pemaknaan. Lebih sering lagi paragraf-paragraf mubadzir yang ngambang.
Sehari ini bertekad menulis apapun yang bisa ditulis. Rasanya kepala terlalu penuh dengan berbagai topik tapi tak pernah sampai pada satu konklusi yang bisa dijabarkan dengan sabar kata per kata. Mungkin karena memang belakangan kurang peka, minim informasi, jarang pegang pulpen, dan belakangan memang udah sedikit baca buku :'D
tapi meski begitu, tetap mimpi menulis itu menggebu. Walau sampai di sini di kalimat ini udah bingung sebenanrnya mau dibawa ke mana tulisan ini. hambar semua yang ditulis. Biarlah, dengan kaku dan terbata huruf demi huruf. Semoga cukup untuk menjawab tanya kakanda. Sekaligus menyapa teman-teman di penghujung Sya'ban: mohon maaf lahir dan batin atas banyak khilaf dan salah baik itu ucapan, sikap perbuatan, atau tulisan. Widya mohon maaf..
Sahabat, saling mendoakan ya, agar kita menjadi pribadi yang semakin cahaya. Bertakwa.
Benci Yang Tulus..
Sebab pohon kebesaran suatu ummat hanya dapat tumbuh, Di taman sejarah yang disirami air mata kesedihan dan darah pengorbanan,
Pagi
ini terharu mendengar kalimat menggetarkan seorang sahabat. Ia hanya
mengulang kalta-kata ustadz Anis Matta, tapi kekuatannya meluncurkan
kalimat itu terasa menegarkan. "Karena kita sudah terbiasa kebal,
kawan.."
Baru
tadi malam ia sesenggukan bahagia. Dalam suaranya yang parau antara
lelah, senang, dan entahlah. Saya tau, dia sudah berbuat banyak. Ingin
duduk di hadapannya, menyaksikan sendiri binaran cinta yang ia punya,
lalu tersenyum teduh untuk sesenggukannya. Walau akhirnya ikut tertular
sedu sedan..
Di ujung telepon tadi malam, kita
masih bisa tersenyum. Tertawa-tawa bahagia. Alhamdulillah wasyukurilah.
Hanya orang-orang yang berhati jernih yang sanggup memahami kilatan mata
kesuksesan kita, mengabarkan pada nusantara bahwa kita ternyata masih
ada. Gagah perkasa dalam arti sejatinya
Hari ini,
besok..dan besoknya lagi, adalah karunia Allah. Karena kita menjadi tau
siapa yang tak menyukai kita, dan "tulus" dalam kebenciannya. Angkat
topi, ucapkan terima kasih lalu tersenyum jernih. Karena kelak, atau
sebentar lagi, diam-diam mereka pun akan mengagumi caramu mencintai..
Para pecinta sejati tak suka berjanji, namun ketika mereka memutuskan untuk mencintai mereka akan segera memberi,
yang kutau, engkau begitu cinta
Menteri Yang Rindu Nge-Ruhi
Malam sudah larut. AC masjid BI dingin menusuk tulang. Pak Tifatul Sembiring pemateri mabit kali ini.
beliau masih tetap semangat berapi-api, yang mendengar juga masih sangat betah mendengarkan penyampaian beliau. Tokoh nasional berdarah Minang, sekaliber menteri berbicara tentang sahabat 'Ali, membahas hadits, ibunda Aisyah, dan banyak hal tentang diin ini. Lama, dan semua audiens terkesima. Hingga semakin larut, moderator menyisipkan kertas kecil. Semacam pesan dari panitia bahwa waktu untuk beliau ngasih materi sudah habis.
Setelah kertas kecil itu, beliau mengatakan:
Langganan:
Postingan (Atom)








Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances