Ditenggelamkan

-dan dosanya telah menenggelamkannya- Al Baqarah : 81

Sekiranya boleh memilih, saya ingin tetap ada di sana. Tempat pertama yang menghadirkan nuansa berbeda di hati saya. Betapa saya merasa sangat kacau di sini. Apa saya menyalahkan keadaan ?

Sekiranya Pak Son, uni Kiki, uni Tuti, ustadz Idris melihat saya sekarang.. Mereka mungkin kecewa.
Sekiranya saya tak harus terlempar dalam kehidupan yang begitu hiruk seperti ini..

Iya, saya tahu saya terus-terusan mengeluh..

Di tempat yang penuh ranjau ini, saya seharusnya bersyukur. Ada bentangan ladangan amal yang begitu luas jika saya ikhlas.

Keikhlasan justru saat kita berat menjalaninya (ustadz Masturi)

Mudah-mudahan memang begitu, mudah-mudahan jatuh bangun saya tak berakhir dengan kesia-siaan,, jangan cabut hidayah Mu karena tak pandainya hamba

Laki-Laki Istimewaku

Aku sedang ingin bercerita tentang cinta, cintaku padamu. Seorang laki-laki dengan tubuh kekar,  dia seorang atlet basket. Ya, kau sungguh gagah.

Laki-laki yang saat kau memboncengku, akan menghembuskan cemburu di antara mereka yang melihat kita. Jika yang melihat seorang pemuda, maka ia mencemburui yang memboncengku (narsis). Jika yang melihat kami pemudi, cemburunya untukku.

Padahal alangkah tak pantas cemburu itu bagi mereka. Karena apa? Karena engkau adikku. Karena engkau adikku. Iya, engkau adikku :’)

Pernahkah ku ceritakan bagaimana hatiku padamu? Pernahkah kusampaikan cintaku padamu? Tentang gumaman yang bersenandung dalam diriku tentang kita berdua. Aku memang tak akan pernah mengungkapkannya karena aku ingin kau menangkap isyaratnya.

Air mata yang tumpah saat tau kau kini sudah begitu berbeda. Terlalu lama kah kita tak bersua? Terlalu sakitkah saat kau dibandingkan dengan kakakmu? Padahal aku iri padamu. Pada telur dadarmu, pada kerupukmu, atau nasi gorengmu yang enak. Kau melakukannya jauh lebih baik dariku. Ledekan nasi gorengku yang asin, tak habis-habis tertawamu. Senang sekali mencandaiku.

Aku yang kalah dalam lomba badminton kita. Kau lelah menanti cock yang terus jatuh di hadapanku. Atau aku yang bosan menatapmu berlaga dalam permainan catur bersama papa. Tak bisa ku mengerti bagaimana caranya walau tak terhitung banyaknya kau jelaskan. Aku yang baru bisa bersepeda saat kelas lima. Aku yang membuat papa jera mengajari naik motor. Payah.

Tersenyum-senyum haru membayangkan bayangan kenangan kita. Enam tahun hanya kita berdua di antara Mama Papa.. Lalu aku meninggalkanmu sejak SMA. Apa saja yang kau lalui? Ceritakan padaku. Selelah apa hatimu? Sesakit apa rasanya?? Kenapa semua terasa berbeda. Jangan tersenyum saja ku tanya. Kenapa kau tak lagi sama?

Bagaimana Hanif yang mengimami lomba shalat jenazah dulu? Hanif kecil yang lucu bersama Widya kecil yang lugu, aku rindu. Sungguh aku rindu. Sering-sering meneleponku, sering-seringlah mengirimkan pesan. Walau sempat ku abaikan, maafkan. Aku menyesali ketidak-pedulianku.

Sambut tawaran Mama yang akan menghargai setiap ayat yang kau hapalkan dengan tambahan uang saku ^_^

Ini tentang seorang laki-laki yang punya ruang istimewa di hati, raihlah masa depanmu.. Hanifku :’)
(Gak bisa nana lanjutin karena jam efektif di RuQun, nana sekarang ada di rumah Quran. Ayo jangan mau kalah :p)kapan-kapan kutuliskan lagi "sesuatu" untukmu, pasti kau tak akan saabr menunggu :p

Yang Terakhir

Tadi, seorang kawan bercerita, suara yang kental dengan rasa sesal. Saya dibanding dia, mungkin tak ada apa-apanya. Seorang Widya yang kalian pasti tahu banyak aibnya. Maka lembar catatan ini bukanlah curhat tanpa makna. Anggaplah ini permintaan maaf, sungguh ini permintaan maaf.

"Saat kita mencela orang lain karena kesalahannya maka tunggu saja kita akan diuji dengan ujian serupa. Dan ternyata kita pun tak sanggup menaklukkannya. Jadilah seorang pesakitan yang tak henti menyesali dirinya."

Maka maafkan saya, karena saya kini tengah terombang-ambing dalam masalah ini disebabkan kesalahan saya pada semua. Dan rasanya penat luar biasa, hampir satu setengah tahun ini mendiamkannya. Menguatkan diri dan berkata bahwa semua baik-baik saja.

Maka sekali lagi, maafkanlah saya, saya sudah merasakan efek kesalahan ini. Betapa meluluh-lantakkan sebuah kesalahan yang mampu menghancurkan kesungguhan. Hingga saat ini saya tak lagi kenal arti "mujahadah" karena sudah bermilyar kali tak sukses memenangkan ketaatan dalam setiap potensi fujur dan taqwa yang Allah berikan.

Maka sekali lagi maafkanlah saya.. Maaf. Untuk yang ini,, berharap ini yang terakhir. Perkenankanlah kiranya.

Kita dan Siapa Saja

Menyaksikan gerak dan gelakmu yang sulit sekali ku cari tau apa maknanya. Walau, berkali-kali walau, sepintas lalu kita terlihat sama, ternyata kita berbeda. Aku tidak menudingmu, juga tak ingin mengatakan siapa di antara kita yang paling mendekati kebenaran. Hanya ingin sekali, dengan susah payah mengatakan pada hati, bahwa aku dan kau tak boleh goyah lagi. Dan aku yakin, untaian tulisan ini tak akan sulit kau pahami.

Beda itu artinya tidak sama. Sama itu berarti tak berbeda. Tapi kita punya keduanya.

Aku sudah lama berputar-putar dalam tanya. Dan sepertinya tak akan ada jawabnya. Kau tahu kenapa? Karena dari dulu, sejak pertama, kau tak pernah jujur bercerita. Bercerita tentang rasa berdosa yang kau tabrak seenaknya. Jadilah sekerat hati itu tak lagi peka. Menangisi kesalahanku, menyesali kekhilafanmu, kita pernah merenunginya. Dan tatapku bertemu dengan mata mu yang masih betah berdusta.

Barangkali aku akan setia, setia menanti saat kau lelah berkelana dan akhirnya kembali. Dalam serpihan rasa bersalah yang jujur. Bahwa tak boleh terlupa, kita telah dimuliakan dan sepatutnya bersikap mulia.

Bergumul dengan kebingunganmu, tentang haq dan bathil, sedang kau ada di antara keduanya. Kau pasti akan menyerah karena lelah. Pun aku pernah merasakan"nya". Kita lihat saja..

Kita Berdua Tinggal di eM_yU

Menerima telepon dari sahabat yang satu itu selalu membuat semangat membuncah. mendiskusikan banyak hal, tentang masing-masing kita yang berdinamika. Dan membuat kita punya makna yang hanya bisa dicerna jiwa dan rasa yang terjaga.

Dan perubahan adalah niscaya, tak ada yang selamanya. Kita dengan hidup kita dan begitu pun mereka. Masing-masing memilih.. Atau dipilih kehendakNya.. :)

Kadang-kadang pusing kepala menganalisis perubahan si anu, si ani, si itu. Lalu kita terbahak saja saat diskusi kita sudah terlalu rumit dan membuat kening berkernyit. Tinggal selemah-lemah iman usaha terakhir untuk saling menjaga, yaitu doa. Semoga mereka baik-baik saja.

dan tentu saja ada malaikat yang mengaminkannya sekaligus berdoa untuk kita.. Semoga aku, aku, kau, dan kau pun baik-baik saja. Dijaga oleh Sebaik-baik Penjaga.

Kalau sudah begini, apa lagi yang perlu kita analisis. Serahkan saja padaNya. Tapi tak kapok-kapok kau meneleponku lagi, atau aku yang menelepon, dan membahas hal yang lagi-lagi sama :D

Kecewa kita pada mereka, mungkin karena kita juga yang tak peka. Dan nanti harap kita bertemu dalam doa, untukku, untukmu, dan untuk yang tersayang sahabat kita.. Agar surga memang merindukan kita dan bersua lagi di sana.

Khianat

Sungguh, aku sedang berkhianat. Dan pengkhianatan itu memanggil pengkhianatan lainnya. Satu hal saja yg kukhianati, maka berantakan seluruh janji. Dan hati ini bukannya tak menyadari.

Tragis sekali,terlalu ironi. Sebuah pengkhianatan yg mengajak pengkhianatan-pengkhianatan berikutnya. Bahkan yg dikhianati adalah hati. Dan aku mungkin sedang bermusuhan dg nurani. Diiringi tawa iblis keji. Sayang, aku berkawankan nasehat2 nya belakangan ini.

Ini catatan seorang aku yg ingin berbaikan dg hati,dan ingin berkawan lg bersama nurani. Jadilah taubat ini abadi dan terpatri.