Iri

Yang mana lagi yang bisa diingkari ? Saat di suatu waktu mulai tak percaya pada curah limpah buncah nikmatNya. Dan mungkin karena itu  beberapa waktu belakangan ini cemburu itu datang lagi. Halus tapi memang menyergapii. Hingga disentil : "Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yg lain." (4:32)

Lalu tercekat, bahwa memang tak lagi berhak menggugat. Bertanya kenapa aku begini? Kenapa dia diberi ? Memangnya aku salah apa ? Ucap, sikap, dan tanggap yg tak hanya mengerdilkan tapi menularkan keputusasaan.

Kalaulah batasan-batasan manusiawi itu menuntut untuk didengar, izinkanlah aku dan aku lalu aku. Karena seperti katamu, arogansi itu seperti selalu menemaniku.

Lelah

Lelah. Saat kau tak tahu lagi cara menangisi kemunduran-kemunduranmu. Atau mungkin kau lupa, atau mulai meremehkannya.

Entahlah. Mungkin dan barangkali. Hampir selalu seperti itu, nyaris tanpa jawaban pasti. Dan tentu saja kau lelah. Akhirnya menyerah pada tangis yang enggan membasah. Pada air mata yang kering, pelit bersimbah. Lalu hanya tengadah.

Sampai kau paksakan. Pilu sesenggukan. Tak tahu kenapa hatimu begitu membatu. Tidak, bukan tak tahu. Tapi kau malu untuk mengaku bahwa itu harga mahal yang harus dibayar untuk maksiatmu. Pada janji yang tak juga bosan terkhianati. Pada janji yang tak kunjung pernah tertepati.

Seteguh harusmu, serapuh jadimu. Maka rasai, kau mulai lelah sendiri.

Berhentilah berdusta, berhentilah membuat dirimu tersiksa. Karena kau pun sudah punya jawabannya, jauh sebelum kau tanyakan kenapa.

(sungguh ini tentang aku. Aku yang minta didoakan sensitivitas keimanan tingkat tinggi dan juga nurani paling bening yang kumiliki. Untuk diin ini.)

A-Asykuru am Akfur ?

Buka pertama sesampai di kampuang tacinto.. #horeeeee#

@ rumah nenek dengan menu : sala, onde-onde, semangka, kelapa muda, mie goreng, ayam goreng, gulai kambing, ikan bakar, pepes ikan, dan bakwan. Belum dimakan pun, sekedar dipandang pun, rasanya sudah kenyang duluan. Ibu, begitu saya memanggil nenek saya, memang selalu wah menjamu menantunya (papa saya) dan cucunya (saya dan adik-adik saya). Istimewa banget kalau dapat mertua orang Pariaman..
*kode ;)

Tapi, hari ini bukan itu yang teristimewa..

Istimewa adalah saat ruang tengah rumah kami menjadi tempat sujud papa, mama, dan saya. Saat papa mengimami tarawih pertama kali seumur hidup saya. Jam 12, tengah malam ini kami memulainya dalam keadaan lelah sesampai di rumah..

Mungkin ini biasa untuk kawan-kawan lain. Tapi istimewa buat saya. Saat saya berwudhu di belakang, tiga sajadah itu telah terkembang. Saat saya belum mengenakan mukena, takbir papa telah berkumandang. Kalah merdu memang,, jika dibandingkan ust Sunarso di MBM. Jauuuuuh...tapi saya senang dan tenang..

Allah, nikmatMu yg mana yg kudustai? Memang tak layak Engkau terus ku khiananati, lagi dan lagi..

jagalah lembut hati imam tarawih saya malam ini ya Hadii. Pun seorang makmum yang berdiri di sebelah saya yg memang lembut hati. "juga untukmu seumpamanya," ucap malaikat mengamini.

"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan" (93:11)

Satu atau Dua Detik

keluar dari jalan mede rumah tante. Diiringi tangisan alfi yang pilu ditinggalkan saya. Padahal baru saja tadi malam dijanjikan HP Angry Bird. "besok kita beli ya, biar Alfi bisa telpon kakak." Dia boleh sakit hati saya tinggalkan sepagi ini, tanpa janji yang terealisasi. Tak tega sebenarnya. Jadi ragu, ingin balik lagi. Tapi ya sudah wid, ini sudah terlambat seharusnya.

Merogoh saku menjelang mulut gang. Uang saya tak ada untuk angkot. Ingin kembali ke rumah meminta ongkos ke tante. Di dompet tinggal selembar terakhir sebelum pulang. Bimbang antara balik lagi atau uangnya dipecah. Ya sudah, jajan aja.

Jalan...terus jalan.. Warung-warung tutup. Agak jauh, akhirnya ketemu warung yang buka. Saya beli permen dan roti. Dua ribu saja.

Dan di depan warung itu saya tunggu angkotnya. Tepat, ketika seorang akhwat bergamis hijau di seberang ingin menyeberang. Dalam satu atau dua detik kemudian, senyum kami terkembang.

Ah,ini dia hikmahnya. Kenapa saya tak bertahan karena tangisan Alfi. Kenapa saya tak kembali ke rumah untuk meminta ongkos. Kenapa warung-warung yang dekat tutup semua. Kenapa warung itu yg buka. Itu hanya untuk sebuah alasan :karena saya harus bertemu dg akhwat ini. Akhwat yang memercikkan girang di hati saya. Bahwa ada orang sepenanggungan. bahwa "jalan yg saya tempuh ini" tak selengang yang saya bayangkan.

Setelah kami bersalaman, dilanjutkan dialog ringan selayaknya orang yg baru saja berkenalan.

"wajah kebaikan itu bisa mencari tahu siapa kawannya"-kata pak Cahyadi. Mudah-mudahan memang demikian. Wajah kebaikan yang mengenal wajah kebaikan lain. Ketika di atas angkot pun, saya diperkenalkan dg kawan beliau yg telah duluan di atas angkot yg kami tumpangi. Mb yg harus memindahkan ma'tsurat yg tergenggam untuk menjabat tangan saya. Selebihnya senyum tulus perpisahan ketika mereka turun. Ukhuwah itu memang menggetarkan, sekaligus menguatkan.

H-1 pulang

Pernah Muda

Takjub mendapati kita bisa senyambung ini.  Setelah dihitung selama 8 tahun peerkenalan kita, 1 SMP sampe tingkat 2, kita baru pernah bertatap muka 9 kali dengan yang tadi. Benar-benar bisa dihitung.Maka mari ucapkan wow :)

Pertama, lomba pidato bahasa Inggris dan baca puisi di SMP Negeri 1 Lubuak Basuang tacinto
Kedua, lomba pidato bahasa Inggris di Kantor Dinas Pendidikan Lubuak Basuang tacinto
Ketiga, berpapasan di CREATIVE Lubuak Basuang tacinto
Keempat, Resa ngajar di kelas Widya di CREATIVE Lubuak Basuang tacinto
Kelima, nginap di Padang untuk pidato bahasa Inggris dan menulis karya tulis
Keenam, sekejap di Bukittinggi
Ketujuh, di Gramedia Padang
Kedelapan, tingkat satu tahun lalu di Gramedia Bintaro
Kesembilan, hari ini dalam rangka ifthor jama'i

Sesuatu ya, Cha :')
Maka mari berterima kasih kembali pada tokoh-tokoh yang menjadi sebab perkenalan kita. Saudara Ravio Patra Asri (mantan ketua Osis SMA Negeri 3 Lubuak Basuang tacinto) dan Yoki Dwi Febrian (peraih nilai UN tertinggi angkatan 2007 SMP 1 Lubuak Basuang tacinto)

-walau sekali pun saya tak pernah ikut lomba pidato nya. Hiks, padahal pengen-

'ala kulli hal, terima kasih, terima kasih. Untuk hari ini. Walau mungkin kita hanya akan ketemu lagi tahun depan, mari saling mengikat hati dengan doa :)

Just Thinking

Saya tak ingin mengatakan bahwa ini sebuah kegalauan. Galau itu pilihan dan saya tidak memilihnya. Ini hanya kontemplasi. Apa yang menjadi tanya bertubi-tubi. Menjadi-jadi.

Ketika cultural shock itu menimpa saya. Terlempar ke sebuah tempat yang hiruk. *lebay lu,wid (kata seorang kawan).

Biarlah,saya tahu saya terlampau banyak berkisah dan berkeluh kesah. Tapi ada yang sedang bertumbuh di pikir saya. Kesimpulan dari pemahaman saya selama ini. Belum final memang tapi lebih teruji, walau kadang rasanya sungguh menyesakkan pikiran dan hati.
*tuh kan apa gua bilang, lebay lu*
-.-'
 
Kata seorang kawan, "belum tentu orang yang paling ketat dan strick itu yang paling baik. Sebenarnya merekalah ikhwah paling lemah, paling rentan, dan paling mengkhawatirkan." Entah, kalimat itu diperuntukkan untuk saya atau untuk dirinya sendiri atau untuk kawan kami.

Tetap saja saya pikir orang fleksibel itu meresahkan. Dekat mereka bikin gerah. Walau mungkin saya pernah. Naudzubillah.

Belum juga rasanya puas, saya sampaikan pada seseorang itu saat saya pulang. Seseorang yang banyak membantu saya berakselerasi pada pemahaman saya. "Saat ini,jenis ujiannya memang demikian. Dinikmati saja dan buktikan bahwa anti tahan uji. Karena besar harapan uni, wdya bisa meringankan beban da'wah ini."

Tangis yang tumpah. Tapi aplikasi jauh dari harapan. Jauh. Tak mampu selurus di sana. Tak mampu seteguh dan setangguh di sana. Itu terus isi cerita saya pada kawan lama.

"Ya iyalah,tak mungkin pakai standar yang dulu,ukh. Kondisinya beda. Harus adaptasi." Kata seorang kawan.

"ya, jangan pakai standar ganda donk. Dimanapun kita, amalannya harus tetap sama," kata seorang kawan lain.

Sungguh, belum selesai. Entah kapan selesai. Dan saya bingung cara menyelesaikan tulisan ini. Tinggal dibubuhi titik, selesai.