Menjadi Pemaaf

Kadang-kadang, bahkan selalu : terasa betapa Allah sangat sabar dan Maha Sabar memberikan banyak kesempatan pada kita untuk terus lebih baik. Bahkan tetap setia, Maha Setia saat seorang hambaNya begitu tertatih, terseok, bahkan sempat berhenti. Allah tak pernah pergi.

Kadang-kadang memang perlu merubah standar menjadi lebih tinggi. Karena ternyata, capaian-capaian selama ini bahkan tak butuh setetes peluh pun meraihnya. Tapi kadang-kadang juga harus pandai memaafkan diri sendiri, saat standar minimal saja tak mampu untuk sekedar disentuh.

Memaafkan diri sendiri, berhenti "cuma" menyesali. Bukan berarti terlalu banyak excuse.

Tapi menjadi lah pemaaf, karena Allah saja Maha Baik memberi kesempatan.

Karena kau memang berhak lelah, tapi ingat: setelah itu bangkit dan berlarilah lebih cepat. Melesat

Bermaksiat Selama 40 Tahun

Pernah dulu di suatu masa, masanya Nabi Musa. Alaihissalam.

Allah menunda hujan turun tatkala permintaan hujan dimunajatkan oleh Nabi Musa dan pengikutnya. Musa bertanya pada Allah, gerangan apa yang bisa menunda permintaannya, sementara penduduk Mesir sudah kelaparan dan binatang ternak hampir mati ?

"Ada orang yang telah bermaksiat selama 40 tahun kepadaKu. Keluarkan dia dari barisanmu !"

Lalu Musa menyuruh di antara mereka yang merasa telah bermaksiat pada Allah selama 40 tahun, keluar dari barisannya. Tidak ada yang keluar. Tapi hujan turun tak berapa lama kemudian! Musa heran, "Tuhan, hujan telah turun, padahal tidak ada seorang pun yang keluar dari barisan."

Allah menjawab, "Hai Musa, hujan turun berkat taubat hamba yang sudah bermaksiat 40 tahun kepadaKu !"

"Tunjukkanlah yaa Allah, biar kubahagiakan dia."

"Selama 40 tahun dia bermaksiat padaKu, selama itu pula Kututupi aibnya, apakah ketika ia kembali padaKu, malah Kubongkar aibnnya?" Rupanya seseorang itu telah berdoa dalam hatinya dengan segenap kesungguhannya.

-Ya Allah, aku bertaubat padaMu, selama 40 tahun Kau tutupi aib dari kemaksiatanku. Aku menyesal dan ingin kembali padaMu. Terimalah taubatku dan tutupilah aibku-

dikutip dari Catatan Hati di Setiap Doa-nya Asma Nadia dkk.

Sekiranya karena Maha Pemaafmu, aku terus bermain-main dengan hatiku. Aku selalu lupa diri dengan nikmatMu, bahkan lupa bahwa azabMu sangat pedih. Dan aku tak akan mampu menanggungnya. Telah kuhabiskan 20 tahun, mungkin penuh kesia-siaan. Merasa tenang dalam kemaksiatan. Dan Kau jaga aku dan seluruh aib-hina-dhaifku.

Teringat malam itu, dalam sebuah lingkaran cinta. Mungkin lingkaran terakhir dengan beliau yang membahaskan Bahaya Maksiat, begitu mengena. Sesaat sebelumnya berlinang air mata di antara kami, ke depannya kita tak lagi akan rutin bersua. Dan 2 tahun ini bukan waktu singkat merajut cinta. Air mata sedih akan berpisah. Juga air mata sesal atas banyak khilaf yang telah tercipta, sesal karena 2 tahun aku ini seperti menyia. Tumbuh, tapi semakin hari semakin buruk. Dan hari ini, ingin sekali menyudahi setiap salah. Semoga benar-benar jadi belajar, bahwa waktu tak akan menunggu. Allah Maha Baik. Dia tidak menzalimi hambaNya tapi kamu menzalimi dirimu sendiri. Jangan lupa lagi.

Demi cintaNya padaku, dan cintaku padaNya. Juga pada mereka: bidadari-bidadari syurga itu. Aku ingin tumbuh lebih baik. Untuk dakwah yang mereka cinta dan aku ingin mencintaiNya, sampai perjanjian denganNya berakhir.

Tunas

Malam ini, penat meminta waktu. Barangkali cukup untuk sedikit bercerita tentang dua nama.

Kak Farida. Ingin sekali berjumpa denganmu.. Bagaimana adik-adik TPA itu antusias mengisahkan kakak kepadaku semenjak dua tahun lalu, mungkin cukup menjadi alasan untuk ingin mengenalmu. Bahwa tak hilang dari memori mereka tentang kebaikan-kebajikan yang kau jejakkan di hati setiap tunas shalihah itu.

Sekalipun aku memang belum bertatap muka denganmu, tapi rindu sesungguh rindu. Tentang ikhlasmu, tentang tulusmu. Penilaian adik-adik yang jujur. Binar mata mereka saat berbincang tentangmu. Tak banyak yang kutahu, selain kebaikan yang terus diulang-ulang oleh mereka. Entah mengapa, merasa dikuatkan hanya dengan mendengar namamu saja. Dan aku merasa mengenalimu dalam doa. Rintihan kata padaNya agar aku memiliki semangat yang sama.

Yang kedua, pada kak Iwik (dewi Ratna), orang pertama yang menyemai tarbawi penuh makna, persis membidik-mengena. Dan memaksaku terus setia, setia menjaga apa-apa yang dulu kau tanam tepat di lahan jiwa. Kakak sekarang di mana kah, kakak sekarang apa kabar kah. Saksikan lah kami kak, tunas-tunasmu dulu. Teringat Rabithah pertemuan terakhir kita. Semoga ada menara cahaya syurga walau kini membentang jarak di dunia.

Saat lelah, saat payah. Selalu ada sejuta alasan untuk bertahan. Bahkan "hanya" dengan dua nama : kak Farida dan kak Dewi Ratna.

Kalaulah Tak Percaya, Minimal Doa

Nana tak menghubungi, sms dan telepon karena belum siap cerita. Hingga telepon tadi malam yang kecewa: "kok Nana pindah? Kenapa sih Nana suka menanamkan konsep, setelah konsep itu tumbuh subur di kepala saya lalu Nana porak porandakan dan menggantinya dengan konsep baru yang bertolak belakang" :')

Iya,aku memang pernah bilang kalau menghapal Quran itu butuh lembaga. Butuh guru. Sampai sekarang juga masih begitu, ukh. Tak ada yang berubah. Menghancur-leburkan sebuah konsep, tidak juga. Dan juga ingin aku agar kau memiliki guru di sana. Yang akan mengajarkanmu meringis saat ikhfa pada huruf ta :)

Seharusnya kau percaya bahwa aku baik-baik saja. Menghela napas, apa artinya kau terpaksa.. Ujung-ujungnya kau tertawa, mungkin geleng-geleng kepala memikirkan seorang Widya. Yakinlah, sungguh akan lulus dan wisuda sesuai janji kita. Janji kita, yang terlalu kokoh, dan mustahil ingin ku dusta. Walau berhembus kadang sekelu ragu, saat ada yang bertanya: Apa iya Widya bisa?

ternyata betapapun akrabnya kita, kau dan mereka adalah sama, tak ingin sangat percaya agar aku tahu bahwa aku bertanggung jawab ketika memenangkan keras kepala. Jika belumlah aku mampu membuatmu tak ragu, kupinta doamu agar memang cita-cita itu terjaga dan hatiku dilembutkan setiap kali melangkah mendekat meraihnya.

tertegun dengan sebuah tanya: "bukankah kami dahulu bersama kamu?"
dan dijawab: "Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan kamu hanya menunggu, meragukan dan ditipu oleh angan-angan kosong..." (57:14)

Afwan Jiddan

20 September 2012

Itu pertama kali aku melihatmu. Mungkin bukan hanya melihat, tapi menatap. Dikelilingi teman-teman sedangkan aku sendirian, belum berkawan. Pertama kali tapi aku sungguh merasa seperti telah mengenalmu. Hingga kini dan mungkin selamanya, aku tak mungkin lupa.

Suatu sore, dari lantai 2 sebuah kosan yang bernama "mulia", aku melihat ceria gempitamu bersama mereka. Lalu sewaktu pagi, dalam sebuah perjalanan yang insya Allah diberkahi aku tahu namamu. Sempat menanyakan pin UGM yang tersemat pada tas kecilmu.

Aku harus bercerita apalagi padamu, pada banyak waktu yang tersia. Terlampau lama, telah habis 2/3 masa. Kini tinggal sepertiganya dan barulah tersadar. Maaf, maaf, maaf.

Maaf, saat sepulang ma'had aku menangis kehilangan Quran dan tak sepenuh hati menjawab tanyamu yang peduli. Maaf, saat aku sungguh lalai tak mengimbangi buncah ghirah untuk buletin pink dulu. Maaf, aku mengabaikan ajakanmu berangkat rihlah. Terlalu bodoh membiarkan itu semua terjadi. Egois, tinggi hati. Aku harus bilang apa lagi ?

Menghela napas,menyesal. Sungguh menyesal saat tersadar bahwa ini tak akan lama lagi. Dicoba pun, tak akan seindah yang sekiranya dimulai sejak pertama kali. Diperbaiki pun, rasanya tak tertebus. Afwan jiddan, maaf sesungguh maaf. Semoga dipertemukan kelak abadi, di surga tertinggi. Lillahi, aku mencintaimu..

-maaf, tak mampu menulis banyak hal. Karena lelah menggali, sesal itu justru semakin menjadi. Pada keterlaluan Widya, afwan jiddan Fira-

Seorang Pejuang

Hanya senyum mengembang saat (ternyata) beberapa teman menanyakan : "kok widya belakangan jarang nulis ?"

Iya benar, mereka sangat perhatian. Bahkan widya sendiri tak sadar kalau akhir-akhir ini tak lagi dermawan berbagi kata. Sebenarnya tak ada alasan kenapa, tapi akhirnya dari pertanyaan itu jadi berkesimpulan dan menyadari ternyata menulis itu menyehatkan dan melembutkan hati. Memang benar, adalah lega setelah warna-warni rasa menjelma jadi kata.

Mulai merangkai-rangkai apa saja yang sudah dilalui selama kehilangan menabur makna. Malam ini seperti titik kulminasi dari segalanya.

Dua hari yang lalu, menerima sms yang menyengat semangat : "Assalamu'alaikum hafizhah". Tepat saat hujan menderas. Seolah guyuran, hembusan angin, basah kuyup yang disuguhkan sungguh-sungguh ingin mengaminkan. Dan mata saya juga hujan. Mengingat bincang kami sehari sebelumnya ditingkahi es krim coklat. Tentang kerisauan : widya takut jika terlanjur malu pada kepalan tangan, pada ghirah yang telah terikrarkan, pada air mata yang mendesak berjatuhan.

Maka bentuk tanggungjawab pada akad hati untuk menuntaskan adalah realisasi. Kok mogok terus. Merenungi kemudian merintih lagi: Rabbi, aku tak tahu akan sesulit ini. Mulai membalik buku yang sebenarnya telah selesai dibaca, seperti benar-benar lupa apa isinya. Dan selalu saya percayai, relasi kualitas hapalan dan keimanan itu sangat dekat. Menggali semua yang pernah menjadi motivasi, ada sebuah tips seorang senior "jaga hati walaupun sulit."

Malu, tapi tak boleh berhenti pada malu itu sendiri. Karena hari tak mungkin berhenti menunggumu memperbaiki janji.