Selemah-Lemah Iman

Marah adalah saat menyaksikan, mendengar, merasa ada yang salah dari kamu. Ada yang salah, ada yang salah. Dari kamu. Kamu yang dulu pernah membersamaiku dalam majlis-majlis kebaikan. Pernah. Dulu.

Majlis kebaikan, masih ingat kan ?

Kalaupun akhirnya, kamu memilih dia, lelah menjadi seperti aku yang begini-begini saja. Maka pergilah. Lalu kembali. Kembali saat aku mulai ingat untuk mendoakanmu lagi. Saat aku tahu seperti apa akibat lupa menyelipkan namamu dalam bait-bait penghambaanku padaNya. Melapangkan diri untuk tak hanya memohon perlindungan bagi diri pribadi tapi mendoakanmu juga agar dilindungi.

Benar, aku yang salah. Dan aku marah. Marah pada diri sendiri tentang betapa terlambat menyadari bahwa memang bolak balik itu milik setiap hati. Dan selemah-lemah iman itu mendoakanmu. Mendoakanmu agar lekas kembali.

Aku Melihat

Menjumpai sahabat-sahabat sebaik itu, sekontributif itu. Sepagi tadi. Sesenja hari ini. Dan mereka, setiap dirinya mampu menghembuskan semacam kelu: ah, surga masih sangat jauh untukku

Menggombali dengan kata-kata: "hai cantik ;P
Tersenyum penuh arti, menatap lama-lama dengan setulus hati, atau pura-pura marah. Apapun, seluruh sikap dari dirinya atau di dalam ekspresi yang dipersembahkannya menjadi sebuah energi. Malu hati, Allahu Rabbi aku menyesali minimnya kontribusi. Kabid danus yang sibuk menghitung hasil dagangan, teman HPD yang totalitas perjuangan :), ah semua.. Tak perlu kusebutkan satu per satu. Karena terlanjur aku sudah malu.

Malam ini, sepulang dari kajian pekanan akhwat..sepanjang Ceger-Sarmili terbayang kembali setiap wajah tadi yang membangkitkan semangat. Semangat, sesuatu yang di hatiku belakangan karam-tenggelam. Nyaris padam, dilalaikan oleh duniawi yang melenakan. Lillahi, membenci setiap yang membuat ku jauh dariNya maka aku membencinya. Dan wallahi, mencintai apa yang mendekatkan ku padaNya maka aku mencintai kalian.

Dan yang belum berhadir, siapa tahu ada semangat yang hampir hilang, entah sedang bersembunyi dimana semangat itu lalu muncul seketika setelah kita bersua..maka hadirilah pertemuan dengan saudari-saudarimu. Mungkin kan tertemui lecutan kebaikan itu lagi. Lewat tatapan mata, geraknya yang menggerakkan hati, senyum yang menggetarkan, gombalannya yang menyenangkan, atau wajahnya yang meneduhkan. Sungguh, aku sungguh menemukan itu semua senja hari ini. Hmm, juga tadi pagi.

Menatap lingkaran kita di bawah senja yang jingga, aku melihat masa depan Islam yang gemilang di tangan muslimah-muslimah hebat Anggaran. Afwan jiddan untuk banyak kekurangan, kekhilafan, ketidak-layakan, ke-kurangkontributifan. Terima kasih untuk telah menghadirkan semacam kelu yang bertalu di kalbu: ah, surga masih sangat jauh, untukku..

Semoga Allah senantiasa menumbuhsuburkan kebaikan di antara kita dalam setiap ikhtiar menuju surgaNya.
terima kasih dan maaf, saudariku (jika boleh aku menyebutmu begitu :')

sepenuh cinta, Widya. (Di tengah tugas Etprof yang belum selesai-selesai juga :')

Inhiraf

Membaca lagi tulisan sang syaikhut tarbiyah: "Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, tak lain karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu"

Kita, jika mau berkaca, mungkin benar-benar compang-camping ya ukh? Atau mungkin Widya saja yang cacat, cacat niat-cacat amal-cacat hasil. Belakangan sering bertanya sendiri: jangan-jangan mereka, semua, memang tak pernah merasa sejuk dengan kehadiran kita sebagai seorang "akhwat." Malah merasa terganggu dengan kita. Sikap kita, tingkah polah kita yang masih jauh dari seharusnya. Kita yang memang manusia biasa, tak dituntut sempurna tapi setidaknya mengikhtiarkan kesempurnaan.


Terhenyak saat ibu kosan menyampaikan uneg-uneg warga yang resah dengan pergaulan laki-perempuan. Sampai harus berdiri lama mendengar keluh kesah beliau, bahkan mungkin tak hanya beliau. Tapi warga. Hingga sampai pada kaalimat: "padahal dia itu jilbaban widya." Lihat, bagaimana masyarakat mengidentifikasi kesalahan dengan apa yang tertangkap indra: pakaian. Beliau, tengah mengeluhkan tetangga saya, sesama warga Sarmili, entah siapa yang jelas dia berjibab. Begitu kata ibuknya. Dianter jemput cowoknya, cowoknya di rumah sampai malam. "Udah kayak berkeluarga aja tuh."
wajar, keresahan khas seorang ibu..

Jilbab. Sikap. Apakah mereka berdua berjalan beriringan serentak ?

Bagaimana seharusnya bapak ibuk warga merasa sejuk dengan kita. Bagaimana kita mempersaksikan pada mereka, beginilah Islam mengatur hubungan laki-laki dan perempuan. Bagaimana kita meperlihatkan pada semua bahwa seperti apa seharusnya muslimah menjaga izzah. Islam yang mulia telah memuliakan para wanita, dan tugas kita adalah bersikap mulia.

Pernah seorang saudari mengingatkan: sebenarnya saat ada teman kita yang melakukan kesalahan, itu bukanlah serta merta kesalahannya seorang. Kalau mau jujur, kamu pun punya kontribusi dan punya andil. Evaluasi lagi, mungkin Rabithah sudah jarang, sms taushiyah juga cuma kadang-kadang, dan amalan yaumiahmu juga berantakan.

Saya terdiam, mengiyakan dalam hati.
Ini hanya tulisan random, entah apa maksudnya ya? Sebelumnya, mohon izin untuk berbagi kepada ibu-ibu BPH Kabid yang shalihat dan mukminat. Boleh ya widya nge-tag? :)
Hehehe, hanya ingin menyapa lebih awal, sebelum besok pagi :)

*inhiraf=penyimpangan

Inhiraf

Membaca lagi tulisan sang syaikhut tarbiyah: "Begitu jauhnya inhiraf di kalangan awam, tak lain karena para elitenya telah salah melangkah lebih dulu"

Kita, jika mau berkaca, mungkin benar-benar compang-camping ya ukh? Atau mungkin Widya saja yang cacat, cacat niat-cacat amal-cacat hasil. Belakangan sering bertanya sendiri: jangan-jangan mereka, semua, memang tak pernah merasa sejuk dengan kehadiran kita sebagai seorang "akhwat." Malah merasa terganggu dengan kita. Sikap kita, tingkah polah kita yang masih jauh dari seharusnya. Kita yang memang manusia biasa, tak dituntut sempurna tapi setidaknya mengikhtiarkan kesempurnaan.


Terhenyak saat ibu kosan menyampaikan uneg-uneg warga yang resah dengan pergaulan laki-perempuan. Sampai harus berdiri lama mendengar keluh kesah beliau, bahkan mungkin tak hanya beliau. Tapi warga. Hingga sampai pada kaalimat: "padahal dia itu jilbaban widya." Lihat, bagaimana masyarakat mengidentifikasi kesalahan dengan apa yang tertangkap indra: pakaian. Beliau, tengah mengeluhkan tetangga saya, sesama warga Sarmili, entah siapa yang jelas dia berjibab. Begitu kata ibuknya. Dianter jemput cowoknya, cowoknya di rumah sampai malam. "Udah kayak berkeluarga aja tuh."
wajar, keresahan khas seorang ibu..

Jilbab. Sikap. Apakah mereka berdua berjalan beriringan serentak ?

Bagaimana seharusnya bapak ibuk warga merasa sejuk dengan kita. Bagaimana kita mempersaksikan pada mereka, beginilah Islam mengatur hubungan laki-laki dan perempuan. Bagaimana kita meperlihatkan pada semua bahwa seperti apa seharusnya muslimah menjaga izzah. Islam yang mulia telah memuliakan para wanita, dan tugas kita adalah bersikap mulia.

Pernah seorang saudari mengingatkan: sebenarnya saat ada teman kita yang melakukan kesalahan, itu bukanlah serta merta kesalahannya seorang. Kalau mau jujur, kamu pun punya kontribusi dan punya andil. Evaluasi lagi, mungkin Rabithah sudah jarang, sms taushiyah juga cuma kadang-kadang, dan amalan yaumiahmu juga berantakan.

Saya terdiam, mengiyakan dalam hati.
Ini hanya tulisan random, entah apa maksudnya ya? Sebelumnya, mohon izin untuk berbagi kepada ibu-ibu BPH Kabid yang shalihat dan mukminat. Boleh ya widya nge-tag? :)
Hehehe, hanya ingin menyapa lebih awal, sebelum besok pagi :)

*inhiraf=penyimpangan

Ditanya Palestina

Seorang sahabat. Ya, sahabat yang kucinta dengan caraku mencintainya. Sahabat yang (akhirnya) melepaskan kain yang baru beberapa bulan belakangan menutupi kepalanya, (akhirnya) memperlihatkan hitam rambutnya. Hari ini (akhirnya juga) aku menanyainya, dengan cinta. Dan ia juga menjawab dengan cinta. "Doakan saja, nanti aku pakai lagi. Bukan sekarang."

Tertegun, lalu secepat kilat tersenyum. Buru-buru meralat lintasan pikiran ku : bahwa tak harus aku selalu melihat apa-apa dari sudut pandangku saja.

Ya, walau apapun, walau bagaimanapun aku mencintainya. Mungkin kami jarang saling bercerita tapi tak perlu banyak alasan untukku menempatkannya sebagai seorang istimewa di hati.  Karena kami seakidah. Percaya dengan sebenar percaya bahwa Ilah kami adalah sama: Allah.

Siang menjelang pulang saat masih kuliah Pengelolaan Utang, dia menanyaiku. Menoleh ke belakang: Hmm, widya aku mau tanya. "Sebenarnya ada apa sih Gaza?" Aku tertegun. Aduh wid, seharusnya tak boleh terkaget-kaget, harus siap dihadapkan pada pernyataan dan pertanyaan apapun oleh siapapun. Lalu teman sebelahnya menimpali: "iya, aku juga penasaran. Gak ngikutin ceritanya. Tau-tau udah heboh aja."

Allah, aku boleh bahagia untuk pertanyaan mereka itu, kan? Aku boleh bersyukur pada sakinah yang turun bersama pertanyaaan itu, lembut dan menyejukkan hatiku. Lalu berdoa, penuh harap padaMu masih dalam ketertegunanku agar Kau izinkan aku menghantarkan secercah cerah di hatinya.Titipkan hidayahMu lewat jawabanku, Rabbku.

"eh, nanti aja widya.." Lalu kembali memperhatikan dosen ke depan. Lalu kami saling diam, mungkin aku terlalu mendramatisiir jika aku merasa dia sebenarnya sedang sibuk dengan lintasan pikirannya. Dan biar Allah yang menjawab tanya itu dengan cara yang lebih elegan dan Maha Indah. Biar, kami tak jadi saling bertukar pandangan. Biar, dia tak jadi mendengarkan dan aku belum sempat mengatakan sesuatu yang layak disebut jawaban.Biar Allah yang membawa jawaban itu ke hadapan hatinya.

Dan sepulang kuliah ini, selepas sujud syukur dalam rakaat terakhir Zhuhur..aku meneruskan pesan cinta bahwa nanti ba'da Ashar kita akan menggelar kajian di lapangan A, berbagi cerita tentang Palestina, Gaza, dan para syuhada. Sahabatku, kita nanti datang ya.. Hmm, jangan marah jika ternyata tulisan ini kau baca. Cukup tahu betapa cinta seorang Widya padamu. Pun tak apa jika kau tak membacanya. Agar menjadi rahasia antara aku, Dia, dan siapa saja yang sempat melirik catatan ini. Catatan yang kutulis untukmu.

(untuk sekecil apapun upaya kita, ternyata tak pernah sia-sia. Merubah profil-picture, share gambar, nulis status. Itu menjadi berlipat maknanya saat itu semua mengantarkan banyak sahabat lain yang akhirnya bertanya, ada apa Gaza?)

karena dulu, dengan cara ini juga awalnya aku semakin mencintaiMu dan mengenal betapa indah jalanMu.

Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki 2:272

Ditanya Palestina

Seorang sahabat. Ya, sahabat yang kucinta dengan caraku mencintainya. Sahabat yang (akhirnya) melepaskan kain yang baru beberapa bulan belakangan menutupi kepalanya, (akhirnya) memperlihatkan hitam rambutnya. Hari ini (akhirnya juga) aku menanyainya, dengan cinta. Dan ia juga menjawab dengan cinta. "Doakan saja, nanti aku pakai lagi. Bukan sekarang."

Tertegun, lalu secepat kilat tersenyum. Buru-buru meralat lintasan pikiran ku : bahwa tak harus aku selalu melihat apa-apa dari sudut pandangku saja.

Ya, walau apapun, walau bagaimanapun aku mencintainya. Mungkin kami jarang saling bercerita tapi tak perlu banyak alasan untukku menempatkannya sebagai seorang istimewa di hati.  Karena kami seakidah. Percaya dengan sebenar percaya bahwa Ilah kami adalah sama: Allah.

Siang menjelang pulang saat masih kuliah Pengelolaan Utang, dia menanyaiku. Menoleh ke belakang: Hmm, widya aku mau tanya. "Sebenarnya ada apa sih Gaza?" Aku tertegun. Aduh wid, seharusnya tak boleh terkaget-kaget, harus siap dihadapkan pada pernyataan dan pertanyaan apapun oleh siapapun. Lalu teman sebelahnya menimpali: "iya, aku juga penasaran. Gak ngikutin ceritanya. Tau-tau udah heboh aja."

Allah, aku boleh bahagia untuk pertanyaan mereka itu, kan? Aku boleh bersyukur pada sakinah yang turun bersama pertanyaaan itu, lembut dan menyejukkan hatiku. Lalu berdoa, penuh harap padaMu masih dalam ketertegunanku agar Kau izinkan aku menghantarkan secercah cerah di hatinya.Titipkan hidayahMu lewat jawabanku, Rabbku.

"eh, nanti aja widya.." Lalu kembali memperhatikan dosen ke depan. Lalu kami saling diam, mungkin aku terlalu mendramatisiir jika aku merasa dia sebenarnya sedang sibuk dengan lintasan pikirannya. Dan biar Allah yang menjawab tanya itu dengan cara yang lebih elegan dan Maha Indah. Biar, kami tak jadi saling bertukar pandangan. Biar, dia tak jadi mendengarkan dan aku belum sempat mengatakan sesuatu yang layak disebut jawaban.Biar Allah yang membawa jawaban itu ke hadapan hatinya.

Dan sepulang kuliah ini, selepas sujud syukur dalam rakaat terakhir Zhuhur..aku meneruskan pesan cinta bahwa nanti ba'da Ashar kita akan menggelar kajian di lapangan A, berbagi cerita tentang Palestina, Gaza, dan para syuhada. Sahabatku, kita nanti datang ya.. Hmm, jangan marah jika ternyata tulisan ini kau baca. Cukup tahu betapa cinta seorang Widya padamu. Pun tak apa jika kau tak membacanya. Agar menjadi rahasia antara aku, Dia, dan siapa saja yang sempat melirik catatan ini. Catatan yang kutulis untukmu.

(untuk sekecil apapun upaya kita, ternyata tak pernah sia-sia. Merubah profil-picture, share gambar, nulis status. Itu menjadi berlipat maknanya saat itu semua mengantarkan banyak sahabat lain yang akhirnya bertanya, ada apa Gaza?)

karena dulu, dengan cara ini juga awalnya aku semakin mencintaiMu dan mengenal betapa indah jalanMu.

Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki 2:272