Mama, Ummi, Ibu, Bunda

Dek, waktu SMA kakak pernah ditanya: nanti widya mau dipanggil apa ? Mau dipanggil mama, ummi, ibu, bunda ?

Sekarang kakak sudah kuliah, sudah 4 tahun berlalu, kakak masih sering memikirkan pertanyaan itu. Kira-kira nanti ingin dipanggil apa. Dan jawaban berubah-ubah, dulu ingin dipanggil ummi, sekarang ingin dipanggil ibu. Taukah kenapa dek? Karena kakak pikir, semua itu sama saja mulianya.

Indah ya, menjadi wanita. Menjadi madrasah pertama. Mama, ummi, ibu, bunda.

Dan kakak belajar banyak dari kalian, adik-adik kakak yang manis.

Nanti, kita akan menjadi ibuk yang hebat, adik-adiku sayang. Jangan menangis, gak boleh sedih. Ibu sedang menatap kalian dari syurga. Dia melihat bidadari kecilnya yang membuat beliau bangga, buah hati yang merapal doa buat sang bunda.

Bunda adik-adik sedang menanti di syurga.
Kakak sayang adik-adik.. Allah Maha Menyayangi adik-adik..

Semangat menjadi anak terbaik buat ibu kita, apalagi yang ibunya sudah di syurga.. :')

Nanti kita juga akan menjadi ibu terbaik kan,dik?hmmm, kakak jadi pengen liat asri baca puisi tentang ibu. Katanya keren banget ya ? :)

Setelah adik-adik liburan, kita baca puisi ya... :*

2 Kejahatan, 2 Kebaikan

Dan kamu tau Nak, di dunia ini hanya ada 2 kejahatan dan ada 2 kebaikan..

Ada orang yang jahat, tapi kejahatannya itu masih kecil-kecilan. Paling ya mencuri ayam atau sebiji semangka. Tapi, ada orang jahat yang mau merampas negara kita saking dengkinya, ingin merubuhkan Al Aqsha, atau merebut Palestina.

Mereka penjahat peradaban yang ingin islam punah dan musnah. Merencanakan banyak keburukan, tidak ridha sampai kita mengikuti milah mereka. Tidak akan pernah ridha dan tenang jika Islam memulia dan jaya.

Ada orang yang baik, tapi kebaikannya itu biasa saja. Menghapal Quran sendirian lalu merasa bangga padahal hanya untuk dirinya sendiri kebermanfaatan itu. Sumpek melihat kemaksiatan di sini dan di sana, tapi diam saja. Emosi menyala tapi tak melakukan apa-apa. Karena terlalu ringkih iman yang ia punya. Seperti insan tepercaya itu bersabda: "kalau tidak mampu juga rubahlah dengan hatimu dan itulah selemah-lemah iman.."

Lalu adalah kebaikan kedua..seperti pernah tertuang dalam buku bapak Anis Matta : ..bagaimana kita mempersaksikan kepada manusia bahwa ada "Al-Qur'an" yang sedang berjalan di pasar, berdebat di parlemen, bekerja di kabinet, dan memimpin sebuah negara..

Ada berjuta alasan keberadaan jalan juang ini. Karena muslim yg kuat lebih Allah cintai. Karena muslim itu tak bisa tinggal diam dengan kemungkaran yang terjadi, ia rubah dengan tanggannya sendiri. Islam tak hanya soal shalat puasa ngaji. Tapi juga soal politik, sosial masyarakat, budaya, ekonomi.

kebaikan yang tak rapi akan kalah dengan kejahatan terorganisiir nan keji.. Sungguh renungilah lagi alasan kita semula, sebab kita ada sejak pertama.

kadang jengah dengan tudingan -ini kok umat Islam gila kuasa-
bukan karena mengejar kuasa, tentu saja. Andai bisa dijelaskan betapa para insan dalam jamaah ini adalah pecinta sejati. Dianugerahi manisnya iman dan mereka ingin semesta turut merasai dan ikut meresapi, bahwa mereka di sini sedang menumbuhsuburkan bumi.

bahkan lebih memprihatinkan kalau ditanya, dibayar berapa kita di sini ?
Bukankah pernah sampai ke relung jiwa: Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka....Berbahagialah dg jual beli itu.

masih ingin bertanyakah kenapa ?
karena kita khalifah, kawan. dan oleh sebab itu iblis begitu dengki..

Sama Saja

Pernah ada yang menuliskan pertanyaan: kira-kira mana yang lebih menyakitkan ditinggalkan atau meninggalkan? Saat kukatakan pada seorang kawan, aku lebih memilih meninggalkan. Dan dia bilang: "payah, widya egois"
:'p

Mungkin kita pernah melakukan keduanya. Meninggalkan dan ditinggalkan. Dan rasanya sama, sama-sama perih bukan ? Tapi setiap orang punya keinginan, dan tak mungkin memenangkan semua kemauan. Karena nyatanya ada banyak keinginan-keinginan yang saling berbenturan.

Setidaknya kita belajar, apapun itu, kita belajar. Belajar memaafkan dan belajar dimaafkan. Belajar mengatakan selamat tinggal atau belajar membisikkan selamat jalan.

bukan kesadaran yang terlambat datang, bahwa dari kehilangan, kita belajar keikhlasan. Keikhlasan. Ditambah bonus, secuil kearifan.. Karena lama-lama, semakin banyak terlewat masa, semakin terbiasa dan semakin dewasa..bahwa demi Tuhan, semuanya adalah fana. Dan siapa kita, sebenarnya?

"Kamu, hanya seorang hamba," dijawab senja..

Diah

Allahumma 'aafinii fii bashari..

Dan handphone mungil itu bergetar, ada namamu di layar. Diah, seseorang yang dipersahabatkan atas nama ukhuwah oleh Allah. Diah, yang sangat hapal untaian kalimat yang nana rangkai, pernah. Padahal nana sendiri begitu cepat melupakannya, malah.

Dalam zikir hati padaNya, terulur rasa syukur. Untuk sahabat sebaik ini, untuk bidadari Quran ini. Yang tetap mau menyahabati walau dia tau alangkah buruk, alangkah buruk penghambaan diri. Ah, sahabat, mungkin kamu yang paling tau. Sedari dulu. Sedari batik birru dan putih abu-abu. Kau mengenalku, yang tertatih mengeja dan mengejar juz 30-mu. Terseok, menatih langkah letih. Betapa sedih dan lemah. Tapi kau tetap lihat aku bagai sesosok tabah. Beningnya prasangka mu.

Lucu. Saat kau tanya : "nana tau fatthurrahman?"
Dan kujawab dengan lugu: "itu siapa di? Itu nama orang ya di?"

:')
"sayang sekali bukan, nana. Itu nama kitab."
alangkah malu.

Paling banyak selama 53 menit tadi membincang ayat ini: Waqadhaa rabbuka allaa ta'buduu illaa iyyaahu wabil waalidaini ihsaanaa

Diah, tahukah diah apakah keahlian khusus diah? Menyentuh hati nana dengan indah, dengan sangat indah. Dengan cara khas diah. Lucu, lembut, apa adanya tapi mengena. Tepat di jiwa. Menyegarkan semangat nana dengan cara yang berbeda. Bukan dengan taushiyah, tapi sukses, hati nana selalu basah.

Jazakillah. jazakillah diah. jazakillah. Tunggu nana di wisma diah. Tunggu nana di wisma diah. Kita mulai dengan sungguh Al Mulk hingga Al Mursalat. Lalu menerjemah Al Ghasyiyah, jika diizin Allah. Alhamdulillah, segala syukur bagi Allah. Fabiayyi aalaaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan?

"ya Allah, kini pagiMu tlah singgah. Ke dalam hati hambaMu yang resah. Ya Allah, lukisan alamMu nan megah. Iringi daku sujud bermuhasabah. Sujud bermuhasabah."

-muhasabah (Alginat), dengan sedikit digubah :)

Mengoreksi Janji

Kepada para DIVA,

Telah habis kata menjelaskan cinta, tapi aku masih ingin mengutarakannya,
maka biarkan ia terbang menerabas jiwa..dengan makna, bersama doa
 
Karena kamu bilang: di sinilah aku menemukan cinta yang sesungguhnya, cinta yang sejati
karena kamu bilang: kumpul bareng kalian rasanya adeeem..


aku jatuh cinta,
pada kenangan pertama kali kita berkenalan,
pada pujian tulus yang menguatkan harapan,
pada sesenggukan kalian,
pada tangisan penyesalan,
padahal telah kalian berikan seluruhnya-masih saja merasa belum berbuat apa-apa,
aku jatuh cinta, sungguh cinta

karena kamu bilang: di sinilah aku menemukan cinta yang sesungguhnya, cinta yang sejati
karena kamu bilang: kumpul bareng kalian rasanya adeeem..

Selamat ujian....23 muslimah shalihat yang dalam jatuh bangunnya dalam banyak cobaan keimanan, tetap ingin ia bertahan dan terus berjalan. Sampai tuntas perjanjian, dan belum habis pengharapan. Belum habis pengharapan untuk menjumpai wajahNya, semoga Ia ridha. Semoga Ia ridha.

Teriring maaf dari sahabat yang senang berpura-pura ini.
hari ini ia memperbaiki janji, berjalan beriringan bersama kalian lagi. Karena tiada pernah Allah tinggalkan kita sendiri.

Dalam khilaf, Dia tetap menanti.

Cemburu

-ini ditulis spesial untuk kawan-kawan anggaran. pasti akan sangat merindukan semuanya, kelak-
:')

Lama-lama, aku mulai terbiasa ditinggalkan..
Kamu lebih memilihnya..
Kudekap kitab kecil yang pernah kita kaji bersama.
Meresapi himpitan rasa yang kau hadiahkan..
Dan aku tau, kau pun lelah memilih begitu..

Di antara tumpukan cemburu dan rindu, aku masih menunggu
sekiranya waktu memberi restu agar terbersit inginmu berjalan lagi di sampingku.
menjemput cita-cita kita dulu..

Aku hanya seorang sahabatmu yang terlampau ragu..
Maka kutitip doa, agar kamu dijaga.
Berharap lantunan ketekunan doa itu diganti dengan sekelumit lega,
Bahwa kamu baik-baik saja..

Kawan baikku, besok jika kita bertemu,
Bolehkah kukisahkan tentang cemburu dan rindu itu padamu ?