kelak, saat lagi-lagi dirimu merasa bersalah, berdosa, dan bertanya kenpa harus masalah-masalah ada: bukalah lembaran ini. Lembaran pertama saat memulai ini. Lembaran niat, lembaran maksud, lembaran bismillah..
Berhentilah wid, berhentilah merisaukan hal kerdil seperti ini. Berhentilah merasa bersalah.. Berhentilah menjadi kalah.
karena akhirnya sampai detik ini, dirimu belum juga selesai diuji. Biarlah akhirnya engkau luruh dalam maksud hatimu yang paling lurus. Bahwa waktumu di sini, di dunia ini, sudah tak banyak lagi. Mengabadilah bersama kata yang kau ikat menjadi makna, yang berdoa menjadi amalan yang mengantarkanmu ke pintu surga.
agar sejuta rasa menjelma menjadi semilyar nyawa, bahwa kehadiranmu tidak sia-sia.
hah, susahnya meyakinkan diri sendiri. Karena seperti komentar seorang kawan, widya sudah terlalu takut jatuh. Makanya tak mungkin mengangkasa tinggi. Terlalu hati-hati, tapi akhirnya tak menemukan perjuangan yang hakiki.
setelah ini, berjalanlah hati-hati. Tapi teguh, teguh membuktikan pada hari, bahwa setelah jatuh pasti bangkit lagi. Agar iblis mencari jalan lain, tak sanggup ia merasuki niatmu yang bening...
pada janjimu menjadi muslimah sejati, pada janjimu menjadi hamba Allah yang berdedikasi, ummahat hebat.
pada janjimu membagi kenikmatan dipersahabatkan dengan Quran.
pada janjimu merenungi Shirah Nabawi.
pada ukhuwah yang manis. pada kesendirian yang membuatmu menggigil tangis.
lalu menjelma jadi bermilyar kata dengan irama surga. Nada-nada merdu kejujuran seorang hamba..
kenapa Sajadah Maisyah?
akhirnya..tidak mampu menahan diri dari menulis (blog) lagi. Dan memulai dengan senyuman penuh arti, entah sudah berapa kali hapus-hapus akun facebook, hapus blog, gonta-ganti nomer hape. Biarlah, jika akhirnya mampu menertawakan diri sendiri.. :'D
Allah, aku menulis ini dengan selurus-lurus niatan. Dengan cita-cita yang kupahat sejak aku SMA, dengan nama yang gagah: Sajadah Maisyah.
bismillah..
Allah, aku menulis ini dengan selurus-lurus niatan. Dengan cita-cita yang kupahat sejak aku SMA, dengan nama yang gagah: Sajadah Maisyah.
bismillah..
Laporan PKL Untuk Papa
Pa, akhirnya widya beli pulsa modem demi menulis ini. Padahal
berjanji untuk tidak OL selama Ramadhan. Ini widya tulis dari hati untuk
Papa, hanya untuk Papa. widya ketik dengan air mata, air mata cinta.
Widya sayang Papa.
Papa sudah makan ? Makan sup Mama, kesukaan Papa. "Widya harus bisa masak sup seenak ini.."
Ramadhan
saat widya kelas 2 SD dulu, Papa memaksa Widya agar membatalkan puasa.
Dijawab dengan gelengan kuat yang motivasinya entah apa. Mungkin
pengaruh iqamah pertama yang Papa bisikkan ditelinga begitu menjiwa.
Hingga menjaga kehanifan itu sejak mula. Semoga.
Dulu kelas 3 SD, widya sakit. Papa nganter widya sekolah naik tangga sekolah digendong. Memaksa menelan obat setiap pagi.
Dulu, suatu pagi, mobil mogok lagi. Widya berangkat didikan Shubuh jalan kaki berdua Papa
Dulu, widya dianter ngaji setiap hari.
Dulu,
dipaksa makan sayur. Sampai kelas 3 SMP masih belum mau. "Nanti widya
pasti nyesel gak dengerin kata Papa.." masih bergeming.
Sekarang sayur itu enak pa, widya suka sayur. Widya suka sayur sekarang, pa.
widya belum terlalu suka ikan, tapi widya mencoba..
widya sayang papa, widya sayang papa..
Sekarang
widya PKL, di sini bertemu banyak bapak yang mungkin seumuran Papa.
Kernyit dahinya seperti Papa. Widya rindu papa. Widya rindu papa. Rindu
setoran hapalan pada papa yang menatap Quran di balik kaca mata..
Widya sayang papa. Saat kultum hari Jumat di kantor, ada hadits: "masukilah surga lewat ayahmu.."
widya ingin pa masuk syurga.. Lewat papa.. maafkan widya, maafkan widya..
Ingat
papa memperbaiki piala pertama widya yang rusak. Ingat papa kecewa saat
widya batal ikut lomba pidato bahasa inggris waktu SMP. Widya anak
papa. Widya anak papa..
Beberapa hari yang lalu bertanya pada mama: "Ma, papa sayang widya ndak ma ?"
Ramadhan ini semoga kita sekeluarga menjadi hamba yang (semakin) bertakwa...
Pilu
Jujur,,, pilu
Bukan karena tidak bisa melihat langsung semangatmu tiap hari yang selalu membersamaiku
Karena diantara semangatmu kau tak lupa menitipkannya pada orang-orang sekitarmu
Semangatmu itu akan tetap terasa membersamaiku
Pilu
Bukan karena aku berfikir engkau telah menjauh dari citamu
Sebaiknya, karena menguatnya cita menjadi keluargaNya,,, dambaan terbesarmu
Dan aku percaya itu
Pilu
Bukan karena aku ragu kau tak mampu
Karena ku yakin kau akan tetap menjadi seekor burung cantik yang terus mengepakkan sayap menyapa Yang tengah merindumu
Aku pun tak tahu pasti pilu apa itu
Karena hati lelah mencari alasan
Cukup karena,,, memang itu yang kurasa
"Jazakillah, telah membuat diri ini mampu menangis pilu, tersembilu membaca kalimat ini lagi.
Afwan untuk banyak khilaf dan salah ya Mi..
Maafkan widya Mi, iman yang sedang compang-camping belum mampu merangkaikan kalimat indah malam ini, tapi mudah-mudahan ketulusan semakin menyuburkan ukhuwah, dan itu tersampaikan walaupun tak inda..
Uhibbuki fillah..."
-widya sayang Azmi, karena Allah. Karena Allah...
Bukan karena tidak bisa melihat langsung semangatmu tiap hari yang selalu membersamaiku
Karena diantara semangatmu kau tak lupa menitipkannya pada orang-orang sekitarmu
Semangatmu itu akan tetap terasa membersamaiku
Pilu
Bukan karena aku berfikir engkau telah menjauh dari citamu
Sebaiknya, karena menguatnya cita menjadi keluargaNya,,, dambaan terbesarmu
Dan aku percaya itu
Pilu
Bukan karena aku ragu kau tak mampu
Karena ku yakin kau akan tetap menjadi seekor burung cantik yang terus mengepakkan sayap menyapa Yang tengah merindumu
Aku pun tak tahu pasti pilu apa itu
Karena hati lelah mencari alasan
Cukup karena,,, memang itu yang kurasa
"Jazakillah, telah membuat diri ini mampu menangis pilu, tersembilu membaca kalimat ini lagi.
Afwan untuk banyak khilaf dan salah ya Mi..
Maafkan widya Mi, iman yang sedang compang-camping belum mampu merangkaikan kalimat indah malam ini, tapi mudah-mudahan ketulusan semakin menyuburkan ukhuwah, dan itu tersampaikan walaupun tak inda..
Uhibbuki fillah..."
-widya sayang Azmi, karena Allah. Karena Allah...
Hingga Kau Tahu
Dan jawabannya hanya satu, gizi ruhi yang tinggi..
Untuk kemarahan mu yang tak beralasan,
Untuk tangisan yang enggan melengkapi sesalmu,
Untuk hati yang sempit menerima satu dua kata atau sikap yang nyelekit,
Untuk semua yang kau rasa, bahwa kau sedang buruk. Sedang amat buruk.
Gizi ruhi..
Hingga kau tau, ternyata beginilah dirimu itu.
Dirimu yang katanya rindu syurga,
Dirimu yang katanya ingin menghadiahkan mahkota cahaya untuk mama papa,
Dirimu yang katanya ingin kelak menatap wajah Yang Maha Mulia.
Hingga kau tau, ternyata beginilah dirimu itu..
Hanya seorang pemimpi yang hendak mengajak adik-adiknya berlari menuju hidayahNya,
Sedang ia sendiri terseok..
Hingga kau tau dirimu itu..
Hanya insan dengan segumpal daging-bernama hati-yang kurang gizi..
Untuk kemarahan mu yang tak beralasan,
Untuk tangisan yang enggan melengkapi sesalmu,
Untuk hati yang sempit menerima satu dua kata atau sikap yang nyelekit,
Untuk semua yang kau rasa, bahwa kau sedang buruk. Sedang amat buruk.
Gizi ruhi..
Hingga kau tau, ternyata beginilah dirimu itu.
Dirimu yang katanya rindu syurga,
Dirimu yang katanya ingin menghadiahkan mahkota cahaya untuk mama papa,
Dirimu yang katanya ingin kelak menatap wajah Yang Maha Mulia.
Hingga kau tau, ternyata beginilah dirimu itu..
Hanya seorang pemimpi yang hendak mengajak adik-adiknya berlari menuju hidayahNya,
Sedang ia sendiri terseok..
Hingga kau tau dirimu itu..
Hanya insan dengan segumpal daging-bernama hati-yang kurang gizi..
Menuliskan Rindu
*Buat pembaca budiman, ini hanya coretan yang kurang penting sebenarnya. Jadi silahkan mengurungkan niat membaca note ini :p
Malam ini packing mau pindah buat PKL. Tiba-tiba, selembar kertas itu menyembul :)
Ini tulisan tahun 2011, ditulis sepenuh cinta oleh seorang kakak. Yang senang membelikan es krim untuk adik manjanya ini :*
Kakak ingat ini tidak? Widya bantu ingat y kak, saat widya meminta kakak menulis testimoni yang panjang buat widya :*
Ini dia edisi 1, kak.. :)
Kakak dulu nulis 3 edisi lhoo.. :)
Hari ini hari ke-4 mahad, dan Widya tampak lebih ceria hari ini.. Ada apa ya ? *tingtingting
Tadi nanya ke Widya. "Beli dimana ini dek bukunya ?"
Widya, ..Tailah kak..."
Saya, "Apa Thailand ?"
Widya, "Fatahillah kak.." Abis itu dia ketawaketiwi bahagia bgt.. Baru kali ini deh kayaknya.. Ada apa ya? *tingtingting
Hmm, tadi juga tiba-tiba dia bilang, "the next ustz. Yoyoh.." sambil senyam-senyum dan tangan kanan megang dagu.. Bersemangat sekali, ceria sekali, dan cerah sekali dia hari ini.. Ada apa ya? *tingtingting
Ada apapun itu, pertahankan ya dek!! Selain makin cantik (cie..) juga nebar semangat positif ke yang lain ^^
Kita lihat apa hari ini widya ngantuk dan tidur (lagi) ? ^^
27 Oktober 2011
-kangen ma'had, kangen kakak, kangen banget.. :')
Malam ini packing mau pindah buat PKL. Tiba-tiba, selembar kertas itu menyembul :)
Ini tulisan tahun 2011, ditulis sepenuh cinta oleh seorang kakak. Yang senang membelikan es krim untuk adik manjanya ini :*
Kakak ingat ini tidak? Widya bantu ingat y kak, saat widya meminta kakak menulis testimoni yang panjang buat widya :*
Ini dia edisi 1, kak.. :)
Kakak dulu nulis 3 edisi lhoo.. :)
Hari ini hari ke-4 mahad, dan Widya tampak lebih ceria hari ini.. Ada apa ya ? *tingtingting
Tadi nanya ke Widya. "Beli dimana ini dek bukunya ?"
Widya, ..Tailah kak..."
Saya, "Apa Thailand ?"
Widya, "Fatahillah kak.." Abis itu dia ketawaketiwi bahagia bgt.. Baru kali ini deh kayaknya.. Ada apa ya? *tingtingting
Hmm, tadi juga tiba-tiba dia bilang, "the next ustz. Yoyoh.." sambil senyam-senyum dan tangan kanan megang dagu.. Bersemangat sekali, ceria sekali, dan cerah sekali dia hari ini.. Ada apa ya? *tingtingting
Ada apapun itu, pertahankan ya dek!! Selain makin cantik (cie..) juga nebar semangat positif ke yang lain ^^
Kita lihat apa hari ini widya ngantuk dan tidur (lagi) ? ^^
27 Oktober 2011
-kangen ma'had, kangen kakak, kangen banget.. :')
Langganan:
Postingan (Atom)
Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances