Antara Menulis dan Ramadhan

Hanya diam dengan wajah yang dipaksa pura-pura tak tertohok.. saat seseorang kakak bertanya: "dek, mana tulisan terakhirmu ?"

Setiap kali pulang ke rumah dan duduk di depan laptop, selalu ada semangat meluap-luap menulis. walau sekedar episode-episode kecil yang berhikmah, minimal kegiatan di Markazul Quran yang bisa memotivasi teman-teman. Hanya baru selesai mengetik beberapa kalimat, tiba-tiba moodnya hilang. Kadang sudah panjangg tapi terasa tak ada pemaknaan. Lebih sering lagi paragraf-paragraf mubadzir yang ngambang.

Sehari ini bertekad menulis apapun yang bisa ditulis. Rasanya kepala terlalu penuh dengan berbagai topik tapi tak pernah sampai pada satu konklusi yang bisa dijabarkan dengan sabar kata per kata. Mungkin karena memang belakangan kurang peka, minim informasi, jarang pegang pulpen, dan belakangan memang udah sedikit baca buku :'D

tapi meski begitu, tetap mimpi menulis itu menggebu. Walau sampai di sini di kalimat ini udah bingung sebenanrnya mau dibawa ke mana tulisan ini. hambar semua yang ditulis. Biarlah, dengan kaku dan terbata huruf demi huruf. Semoga cukup untuk menjawab tanya kakanda. Sekaligus menyapa teman-teman di penghujung Sya'ban: mohon maaf lahir dan batin atas banyak khilaf dan salah baik itu ucapan, sikap perbuatan, atau tulisan. Widya mohon maaf..

Sahabat, saling mendoakan ya, agar kita menjadi pribadi yang semakin cahaya. Bertakwa.

Benci Yang Tulus..

Sebab pohon kebesaran suatu ummat hanya dapat tumbuh, Di taman sejarah yang disirami air mata kesedihan dan darah pengorbanan,

Pagi ini terharu mendengar kalimat menggetarkan seorang sahabat. Ia hanya mengulang kalta-kata ustadz Anis Matta, tapi kekuatannya meluncurkan kalimat itu terasa menegarkan. "Karena kita sudah terbiasa kebal, kawan.."

Baru tadi malam ia sesenggukan bahagia. Dalam suaranya yang parau antara lelah, senang, dan entahlah. Saya tau, dia sudah berbuat banyak. Ingin duduk di hadapannya, menyaksikan sendiri binaran cinta yang ia punya, lalu tersenyum teduh untuk sesenggukannya. Walau akhirnya ikut tertular sedu sedan..

Di ujung telepon tadi malam, kita masih bisa tersenyum. Tertawa-tawa bahagia. Alhamdulillah wasyukurilah. Hanya orang-orang yang berhati jernih yang sanggup memahami kilatan mata kesuksesan kita, mengabarkan pada nusantara bahwa kita ternyata masih ada. Gagah perkasa dalam arti sejatinya

Hari ini, besok..dan besoknya lagi, adalah karunia Allah. Karena kita menjadi tau siapa yang tak menyukai kita, dan "tulus" dalam kebenciannya. Angkat topi, ucapkan terima kasih lalu tersenyum jernih. Karena kelak, atau sebentar lagi, diam-diam mereka pun akan mengagumi caramu mencintai..

Para pecinta sejati tak suka berjanji, namun ketika mereka memutuskan untuk mencintai mereka akan segera memberi,

yang kutau, engkau begitu cinta

Menteri Yang Rindu Nge-Ruhi

Malam sudah larut. AC masjid BI dingin menusuk tulang. Pak Tifatul Sembiring pemateri mabit kali ini.

beliau masih tetap semangat berapi-api, yang mendengar juga masih sangat betah mendengarkan penyampaian beliau. Tokoh nasional berdarah Minang, sekaliber menteri berbicara tentang sahabat 'Ali, membahas hadits, ibunda Aisyah, dan banyak hal tentang diin ini. Lama, dan semua audiens terkesima. Hingga semakin larut, moderator menyisipkan kertas kecil. Semacam pesan dari panitia bahwa waktu untuk beliau ngasih materi sudah habis.

Setelah kertas kecil itu, beliau mengatakan:

Nama Saya: Widya Nova Syamita

Cerita ini bukan fikitif. Nyata, fakta, dan realita. Sekedar ingin menuntaskan kerinduan jemari untuk mengetikkan kalimat-kalimat yang berdesakan, berkecamuk ingin berkisah Juga ingin menyapa saudari, sahabat yang dekat maupun yang jauh. Semoga ini senantiasa mengikat hati kita, dalam doa.

:')

Perkenalkan, nama saya Widya Nova Syamita. Kata-katanya, kalimat atau kata paling indah di telinga setiap orang adalah namanya.. Walaupun kurang tau persis, tapi memang dari dulu merasa paling merdu mendengar guru mengabsen rentetan huruf yang menyusun nama saya :')

Widya. Nova. Syamita.

Tiga kata. Berbeda dengan 3 saudara lainnya, nama saya satu-satunya yang tidak Islami. Saya sulung. Punya adik namanya Hanif, Aisya, dan Huda. Lihatlah deretan nama itu, nama Widya terdengar asing tanpa ada aroma dan hampa komposisi syurgawinya..

Dalam pertumbuhan kita menuju seseorang yang dewasa dan bijaksana, sering tanpa sadar dan tanpa sengaja muncul memori lama. Kenangan yang tiba-tiba hadir begitu saja. Dulu, seperti anak kecil lainnya, saya pernah bertanya. Pada Mama, apa arti nama saya : WIDYA NOVA SYAMITA. Wahyu Ilahi Dilahirkan Yusrita Awal NOVember Anak Syamsir-Yusrita.

saya semakin bahagia dengan 3 kata ini
hingga akhirnya, kini. Mungkin setahun belakangan. Mungkin lebih cepat, mungkin juga lebih lambat. Dengan penuh kesadaran akhirnya paham. Jauh-jauh hari sudah mereka doakan. Wahyu Ilahi.

(sudah kami doakan nak, tinggal kamu ikhtiarkan )

Syamita Alif Asmia, Widya Nova Shahfira :)

hmm, Fira ingat ketika widya "mengkhitbah" fira untuk menjadi sahabat tahsin widya. Itu karena fira bercita-cita menjadi ibu negara, dan widya ingin menjadi temen ngaji ibu negara. Ya fir, kemudian segalanya bermula. Walaupun itu ketika kita sudah tingkat tiga, setidaknya sebelum widya menyesal: satu spesialisasi dengan (calon) ibu negara tapi tak kecipratan apa-apa. Maka dengan semangat membaja, mengajukan diri dengan gagah berani. Setengah memaksa agar diterima :'D

Fira, di balik jalin-jalinan agenda yang sengaja kita renda, Allah punya banyak rahasia tentu saja. Kita dipertemukan kemudian diakrabkan iman. Bukan sekali dua kali kita berbarengan pulang dari sebuah acara. Di depan pohon jambu, selalu merasa saling enggan berpisah. Cerita, kisah, hikmah seakan tak berhenti terus mengalir. Deras, sederas air di musim hujan. Berbagi warna, bertukar makna.


Bersama Fira,
widya tau, Allah tak pernah salah dengan pilihanNya. Belajar dari hikmah yang begitu indah bahwa Allah langsung yang mentarbiyah.


Bersama Fira,
widya tau, Allah selalu punya cara melunakkan hati kita atas tinggi hati. Lalu tiba-tiba kita dapati diri ini sebagai seseorang yang lembut jiwa. Dan merasa begitu dicintai olehNya.

saat Fira bilang: "wid, Fira sedang diselamatkan jamaah. Wid, Fira sedang dijaga Allah. Wid, Fira beranjak memahami.." widya takjub juga malu.

Saat Fira meminta maaf jika suatu hari nanti Fira urung menjadi ibu negara, widya yakin Allah telah menyiapkan kedudukan yang jauh lebih mulia dari sekedar ibu negara. Ibu, di istana syurga. Dan besok, in syaa Allah, biidznillah, Fira akan menikah. Semakin dekat, semakin dekat pada titel 'ibu'. Dan agaknya, widya perlu sedikit cemburu :'D

"Nanti kalau Fira sudah menikah, kita pasti berubah ya Fir?"hmm, sesungguhnya itu bukan pertanyaan. Widya hanya butuh penegasan, bahwa widya tak perlu merasa ditinggalkan. Toh, tak akan ada yang berubah di antara kita. Kita akan tetap sama, sebelum dan setelah menikahnya Fira. Itu jawaban yang widya harapkan. Harus sedikit kecewa dg jawaban fira: "iya widya, setelah menikah kita akan berubah. Berubah lebih baik tentunya"

Tertegun, rasa syukur kembali terlantun. Allah Maha Baik menganugerahi ukhuwah semanis ukhuwah widya dan fira. Allah Maha Mengajari widya. Mengajari kita berdua lebih tepatnya. Bahwa Dia Maha Bijaksana. Bahwa Dia Maha Tahu Segalanya. Segalanya tentang yang terbaik untuk setiap hamba.


jazakillah Fira sayang.

kisah yang terbentang di antara kita, sangat berharga. Nasi goreng yang menyaksikan mata membasah. Jus buah yang ikut menemani kita memaknai kisah menjadi hikmah. Ayam bakar dan es coklat yang membuat kita lupa bahwa ini sudah jam berapa. Foto berdua. Nakal widya-shahfira. Semuanya terasa sangat istimewa.

setelah ini, sedikit banyak pasti ada hal yang berubah :')
Tapi widya sadar, setiap langkah yang kita jejak bersama hingga hari esok akhirnya tiba, benar-benar lebih dari cukup. Mengantarkan kita pada dewasa sekaligus menempa diri jadi bijaksana.

"kalau memang ini dari Allah dan karena Allah, pasti Dia yang akan menolong kita, Widya"

:))

Sekiranya bisa, ingin sangat untuk bisa hadir di sana. Ingin secara langsung menyaksikan rona bahagia bersemu merah muda di pipi fira. Tapi sekedar ini pun widya harus berlapang dada, widya harus cukup bahagia, Allah perkenankan menjadi saksi. Saksi dari ikhtiar seorang hamba memenangkan ridha Rabbnya. Dan Fira sukses melewati itu semua.


Fira, ternyata tidak hanya Pasuruan, Bintaro, atau Jakarta. Minang pun ikut deg-degan, sekaligus bahagia. Bahagia yang dibalut doa. Barakah, in syaa Allah..

00:59, 15.11.13
ditingkahi deras hujan. Masih di ranah Minang..

Syahruna - Syamita

Ba'da ashar, senyum-senyum sendiri di hamparan sajadah. Pasalnya, kangeeeeen berat pada Runa :'p

Awalnya widya denger percakapan mama dan papa, tiba-tiba ingat ucapan widya pada Runa: "Runa tuh kayak papa widya. Apa-apa dibuang.. Sedikit-sedikit dicampakkan.."

hehehe, ternyata widya sangat rindu. Runa jahat, 3 sms widya gak dibaless.. hiks


RUNA: udah berapa tahun biskuit widya ini, runa buang yaa..
WIDYA: jangan run, masih enak kok.. kan widya ikat pakai karet. Gak bakalan masuk angin biskuitnya
RUNA: awas ya kalau gak dimakan..
WIDYA: iye..iye (sambil nyengir)


beberapa hari kemudian
RUNA: adanya widya makan kue itu? hah?
WIDYA: besok lah ya run, widya udah gosok gigi, hehe
RUNA: liat lah itu alasannya..

akhirnya setelah sekian puluh abad tak jua widya makan. Suatu siang, runa bilang: wid, tadi runa kelaparan.. biskuit widya runa makan. Hahahaha :D

pernah dengan muka kecut menahan rasa tidak enak mengunyah-ngunyah kacang widya yang sudah masuk angin. "Gimana? Masih enak kan?" ledek runa. "Widya tuh ngeyel terus kalau dibilangin.."Seperti biasa, selalu tak mau kalah.. "Enak tau run, kan widya taruh kulkas..weeek"

"nan heranan lah runa liat widya ini.." sambil geleng-geleng kepala


Kangeeeen pake banget lah sama runa. Kangen menyebut-nyebut Mak Adang, Ciani, Elok, Mak Utiah, Om As beserta statistik kepulangan widya. Atau mulai murajaah daftar nama kami sekeluarga. Widya, Hanif, Aisya, Huda, Dafi, Dila, Fauzan.. Sampai Runa hapal :D

"Tak pernah runa liat orang seperti widya ini. Pandai kali bikin runa marah"

hehehe. Afwan ya run..

tapi run memang ya, kata om Tasharo GK

"...mencintai itu, kadang mengumpulkan segala tabiat menyebalkan dari seseorang yang engkau cintai, memakinya, merasa tak sanggup lagi menjadi yang terbaik untuk dirinya, dan berpikir tak ada lagi jalan kembali, tapi tetap saja engkau tak sanggup benar-benar meninggalkannya."

sudah ya, ini di "Fadang" sudah mulai "gelaf". Semoga segera ketemu lah kita ya, kita kan "arkab".. Dadah syahrun.. :')

NB: Dan buat risma, jangan heran ya dek kenapa risma liat kakak selalu tersenyum dan tertawa selama risma di sini. Karena kakak selalu bahagia dekat kak Runa :'))

salam rindu dari bumi Minang.. Sayaaaang runa.. ^^