Kita dan Siapa Saja

Menyaksikan gerak dan gelakmu yang sulit sekali ku cari tau apa maknanya. Walau, berkali-kali walau, sepintas lalu kita terlihat sama, ternyata kita berbeda. Aku tidak menudingmu, juga tak ingin mengatakan siapa di antara kita yang paling mendekati kebenaran. Hanya ingin sekali, dengan susah payah mengatakan pada hati, bahwa aku dan kau tak boleh goyah lagi. Dan aku yakin, untaian tulisan ini tak akan sulit kau pahami.

Beda itu artinya tidak sama. Sama itu berarti tak berbeda. Tapi kita punya keduanya.

Aku sudah lama berputar-putar dalam tanya. Dan sepertinya tak akan ada jawabnya. Kau tahu kenapa? Karena dari dulu, sejak pertama, kau tak pernah jujur bercerita. Bercerita tentang rasa berdosa yang kau tabrak seenaknya. Jadilah sekerat hati itu tak lagi peka. Menangisi kesalahanku, menyesali kekhilafanmu, kita pernah merenunginya. Dan tatapku bertemu dengan mata mu yang masih betah berdusta.

Barangkali aku akan setia, setia menanti saat kau lelah berkelana dan akhirnya kembali. Dalam serpihan rasa bersalah yang jujur. Bahwa tak boleh terlupa, kita telah dimuliakan dan sepatutnya bersikap mulia.

Bergumul dengan kebingunganmu, tentang haq dan bathil, sedang kau ada di antara keduanya. Kau pasti akan menyerah karena lelah. Pun aku pernah merasakan"nya". Kita lihat saja..

Kita Berdua Tinggal di eM_yU

Menerima telepon dari sahabat yang satu itu selalu membuat semangat membuncah. mendiskusikan banyak hal, tentang masing-masing kita yang berdinamika. Dan membuat kita punya makna yang hanya bisa dicerna jiwa dan rasa yang terjaga.

Dan perubahan adalah niscaya, tak ada yang selamanya. Kita dengan hidup kita dan begitu pun mereka. Masing-masing memilih.. Atau dipilih kehendakNya.. :)

Kadang-kadang pusing kepala menganalisis perubahan si anu, si ani, si itu. Lalu kita terbahak saja saat diskusi kita sudah terlalu rumit dan membuat kening berkernyit. Tinggal selemah-lemah iman usaha terakhir untuk saling menjaga, yaitu doa. Semoga mereka baik-baik saja.

dan tentu saja ada malaikat yang mengaminkannya sekaligus berdoa untuk kita.. Semoga aku, aku, kau, dan kau pun baik-baik saja. Dijaga oleh Sebaik-baik Penjaga.

Kalau sudah begini, apa lagi yang perlu kita analisis. Serahkan saja padaNya. Tapi tak kapok-kapok kau meneleponku lagi, atau aku yang menelepon, dan membahas hal yang lagi-lagi sama :D

Kecewa kita pada mereka, mungkin karena kita juga yang tak peka. Dan nanti harap kita bertemu dalam doa, untukku, untukmu, dan untuk yang tersayang sahabat kita.. Agar surga memang merindukan kita dan bersua lagi di sana.

Khianat

Sungguh, aku sedang berkhianat. Dan pengkhianatan itu memanggil pengkhianatan lainnya. Satu hal saja yg kukhianati, maka berantakan seluruh janji. Dan hati ini bukannya tak menyadari.

Tragis sekali,terlalu ironi. Sebuah pengkhianatan yg mengajak pengkhianatan-pengkhianatan berikutnya. Bahkan yg dikhianati adalah hati. Dan aku mungkin sedang bermusuhan dg nurani. Diiringi tawa iblis keji. Sayang, aku berkawankan nasehat2 nya belakangan ini.

Ini catatan seorang aku yg ingin berbaikan dg hati,dan ingin berkawan lg bersama nurani. Jadilah taubat ini abadi dan terpatri.

Tidak Ada

Ini mungkin hanya masalah klasik. Tapi biarlah.

"cukup mencintai orang-orang yg sudah halal punggung tangannya buat kita. Orang yg menyebut nama kita dalam ijab kabulnya"

Iya uni, aku tak sanggup menahan air mata. Walau nasihat serupa sudah sering dikumandangkan dan diperdengarkan pd telinga ini, tetap saja kata-kata uni itu menghujam.

"Al Quran itu 30 juz yg harus dijaga, kapan mau selesainya? Qiyamul Lail apa juga sudah jadi kebutuhan? Kalau hatinya bermasalah, jangan heran QL nya bermasalah. Sudah ngerti kan,wid?"

Ah, pertanyaan itu. Aku kelu.

Tak lama, lalu bersalaman pamit dg mata yg masih kaca. Dan sekokoh janji di jiwa..

"Setelah ini, janji itu harus ada pembuktiannya"

Menyentak jiwa. Uni yg tegas, lugas, dan apa adanya. Tp solutif sangat.

Kebaikan uni itu adalah anugerah Allah yg ku syukuri..nikmat Allah yg tak mungkin kupungkiri.

KaruniaMu yg mana yg kudustakan? Amalku yg mana yg bisa kubanggakan?

Tidak ada.

Ketoprak

WARNING !!!

Membaca tulisan ini, mungkin membuat saya terkesan lebay. Saya yang sedang melankolis menjelang pulang ini. Jadi ingat sesosok laki-laki yang kupanggil Papa atau lebih sering kusebut Apa. Orang yang pernah memarahi anak gadisnya dan mendiamkannya seminggu karena sesuatu. Haruslah anak gadis punya malu, katanya dulu. Dan itu, mengenang didiamkan seminggu itu yang membuat mata berlinang setiap kali merasa melonggar.

Dia, orang yang suatu pagi saat saya sarapan berkuahkan air mata, diminumnya air mata itu. Benar-benar meminumnya, menghirup, menghisap. Sampai habis katanya. Sampai tak keluar lagi, katanya. Adegan paling mengharukan seumur hidup.

Dan entah dimana korelasinya, Bapak ketoprak tadi, membangkitkan kenangan masa kecil itu. Haru, biru, dan menggetarkan rindu. Dan membangkitkan seribu tekad untuk menggenapkan persembahan kalbu. Untuk Apa.

Ya, kadang, kita menyukai seseorang tanpa perlu alasan. Menyukai tanpa bisa menjelaskan. Bahkan hanya dengan sekali tatapan. Melihat gerak-geriknya yang langsung menggerakkan.

Seperti pagi ini, saya dipesona oleh kharisma seorang bapak yang berjualan ketoprak.  Beliau datang di saat momentum yang tepat. Sejam dua jam duduk di depan rumah, menyaksikan banyak bapak-bapak menjajakan dagangan.Berteriak mempromosikan : yam ayam...
Atau “buray...buuuray...”
Atau memakai suara bantu nyanyian : “susu murni nasional...”

Walau sebelumnya sudah sering dengar suara-suara itu dan sudah tidak asing, tapi sepagi tadi suara-suara itu terdengar lebih merdu dari biasanya.

-suara ayah mencari rezeki, bagai nyanyian syurgawi-

Dan benar, bapak ketoprak itu datang dengan momentum yang tepat. Saya sedang bermain dengan khayalan bersama keagungan sosok seorang ayah, beliau sedang dengan sigap menyiapkan sepiring ketoprak. Dan setiap geraknya saya pikir diridhai malaikat.

Jadilah saya beli ketopraknya, dan menghimbau teman-teman yang gak shaum untuk beli juga.. Dan kita sarapan ketoprak bapak yang saya suka pada detik kedua memandangnya, saya rasa. Dan saat ditanya kenapa begitu semangat mempromosikan beliau, saya pun bingung menjawabnya.

*kangen Apa*

Kau Jahat Sekali

Pernahkah kawanku, dalam hidupmu, sekali saja,, sekali saja merencanakan kebaikan untuk temanmu. Berbahagia untuk kebahagiaannya. Terpukul untuk pilu di hatinya. Menyelami lautan rasa yang dia punya, dan menopang hatinya bahwa dia tidak hanya sendiri.

Atau selama ini, kau memang tak pernah begitu. Tak ingin orang lain lebih darimu, atau menyamaimu. Bahkan kepada sahabat terdekatmu sendiri. Resah sekali hatimu jika dia berhasil. Sempit dadamu melihat senyumnya. Kalau begitu, berarti kau jahat sekali.

Juga selalu mencemburui keakraban sahabatmu. Resah melihatnya dekat dengan yang lain, tidak denganmu. Kenapa kau jahat sekali, ayo tanya hatimu. Kenapa jahat sekali?

Dan ketika kau punya mimpi, kau laksanakan mimpimu dengan merusak mimpi orang lain, itu jahat sekali.

Setelah kesal, berbisik pada diri sendiri ::
Silakan menginsyafi, setiap orang punya keinginan. Setiap orang punya impian. Setiap orang ingin menjadi yang terbaik. Sampai tak bisa lagi menjaga hati karibnya. Dan jangan berubah, tetaplah merencanakan kebaikan untuk orang lain. Walau mereka tak pernah mengembalikan apa-apa untukmu.