-ini ditulis spesial untuk kawan-kawan anggaran. pasti akan sangat merindukan semuanya, kelak-
:')
Lama-lama, aku mulai terbiasa ditinggalkan..
Kamu lebih memilihnya..
Kudekap kitab kecil yang pernah kita kaji bersama.
Meresapi himpitan rasa yang kau hadiahkan..
Dan aku tau, kau pun lelah memilih begitu..
Di antara tumpukan cemburu dan rindu, aku masih menunggu
sekiranya waktu memberi restu agar terbersit inginmu berjalan lagi di sampingku.
menjemput cita-cita kita dulu..
Aku hanya seorang sahabatmu yang terlampau ragu..
Maka kutitip doa, agar kamu dijaga.
Berharap lantunan ketekunan doa itu diganti dengan sekelumit lega,
Bahwa kamu baik-baik saja..
Kawan baikku, besok jika kita bertemu,
Bolehkah kukisahkan tentang cemburu dan rindu itu padamu ?
Perempuan
"Maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, kekalkanlah kasih
sayangnya, tunjukkanlah jalan-jalannya, dan penuhilah dengan cahayaMu
yang tak pernah redup.."
Tulisan kecil ini
dipersembahkan untuk teman-teman perempuan yang dihadiahkan Allah, yang
membuat diri ini merasa begitu bersyukur. Yang membuat hidup menjadi
sangat lengkap, sangat lengkap.
Penah seorang sahabat bertanya, "apa makna ukhuwah untukmu ?"
jawaban saya kala itu, ukhuwah adalah energi dari stabilitas keimanan saya.
Penah seorang sahabat bertanya, "apa makna ukhuwah untukmu ?"
jawaban saya kala itu, ukhuwah adalah energi dari stabilitas keimanan saya.
Karena apa ?
Karena
saat hati mulai goyah, kebersamaan dengan kalian sangat bisa
diandalkan. Bahkan hanya dengan menatap saja. Melihat senyum nan ramah,
merasakan persahabatan yang tulus, tepukan di pundak yang menguatkan,
semuanya. Dan waktu berjalan begitu cepat. Semakin dekat, sudah semakin
dekat. Yang tanpa sadar, setiap kita telah merindukan semua ini bahkan
sebelum kitabenar-benar berpisah.
Kelak, mungkin kita
jauh. Ketika penjagaanku tak sampai padamu, dan penjagaanmu tak sampai
padaku. Maka kutitipkan kamu padaNya, seperti kamu titipkan aku padaNya.
Tak pernah bosan mengucapkan ini: aku mencintaimu karena Allah..karena Allah.. resapilah.
Tak pernah bosan mengucapkan ini: aku mencintaimu karena Allah..karena Allah.. resapilah.
Bahkan Iblis Pun Enggan
Membaca notes saudari baru, teh Lintang.. berjuta-juta sentakan menampar sadar:
Apakah insan? segenggam jerami. Sepercik api diriku cukup untuk segenggam jerami. Jika tak ada apapun selain jerami di dunia ini, apa gunanya menganugerahkan padaku begitu banyak api?
Sungguh memalukan meluluhkan sekeping kaca. Meluluhkan batu karang, itulah pekerjaan yang sebenarnya, sepantasnya!
bahkan iblis pun enggan dengan seorang lemah daya upaya akan mujahadah dan cita-citanya. Sampai membaca ini berkali-kali:
Kumohon dari-Mu seseorang yang berani menolak ku. Tunjukan padaku untuk mendapatkan hamba Tuhan yang semacam itu. Kubutuhkan seorang yang akan membekuk batang leherku. Seseorang yang berkata 'pergilah dari muka ku!'
Seseorang yang dimatanya dua butir jewawut pun tak berharga diriku. Beri aku, ya Tuhan, insan yang benar-benar beriman seorang saja. Siapa tahu aku akan mengenal kegirangan dalam kekalahanku pada akhirnya."
bahkan iblis pun...
"...Ya Tuhan penguasa mereka yang benar dan tidak benar, menyertai insan telah membuat kami memar, tiada sekalipun mereka pernah memberontak terhadap kekuasaanku, telah dipejamkannya matanya merenungkan dirinya namun tidak juga ia menemukan dirinya.
Debunya sama sekali tak mengenal kesukaan membangkang, tak mengenal pancaran harga diri yang cemerlang. Binatang buruan itu berkata pada pemburu: 'tangkap aku!'
Hindarkan diriku, ya Tuhan, dari hamba yang kelewat patuh itu! Bebaskan aku dari binatang buruan yang demikian itu.
Ingatlah akan kepatuhanku dimasa lalu.
Cita-citaku yang mulia lewat dirinya telah terhina, duhai malangnya diriku, malangnya!
Wataknya belum matang, ketetapan hatinya mudah digoncang, penuh raga. Lawanku ini tak dapat menahan satu pukulan saja dariku. Kubutuhkan hamba Tuhan yang berpenglihatan lantang, kubutuhkan lawan yang lebih matang!
Ambilah kembali barang permainan dari air dan lempung ini, bagi orang dewasa tak cocok mainan kanak-kanak ini.
Apakah insan? segenggam jerami. Sepercik api diriku cukup untuk segenggam jerami. Jika tak ada apapun selain jerami di dunia ini, apa gunanya menganugerahkan padaku begitu banyak api?
Sungguh memalukan meluluhkan sekeping kaca. Meluluhkan batu karang, itulah pekerjaan yang sebenarnya, sepantasnya!
Aku telah menjadi sedih dengan segala kemenanganku.
Sehingga hamba pun menghadap pada-Mu kini mengharapkan ganti rugi semua itu.
Kumohon dari-Mu seseorang yang berani menolak ku. Tunjukan padaku untuk mendapatkan hamba Tuhan yang semacam itu. Kubutuhkan seorang yang akan membekuk batang leherku. Seseorang yang berkata 'pergilah dari muka ku!'
Seseorang yang dimatanya dua butir jewawut pun tak berharga diriku. Beri aku, ya Tuhan, insan yang benar-benar beriman seorang saja. Siapa tahu aku akan mengenal kegirangan dalam kekalahanku pada akhirnya."
(beliau ngutip dari buku "Javid Namah (kitab keabadian)" karya Iqbal)
Ina, boleh widya ikut membantu menafsirkan? Ini tentang iblis yang heran melihat "insan" begitu mudah dibelokkan dan dijerumuskan.. T,T
Ceritakan padanya na, tentang hebatnya kita.. walau batu karang menghadang jalan, bersama kita terjang. InsyaAllah. SemangkA :)
Apakah insan? segenggam jerami. Sepercik api diriku cukup untuk segenggam jerami. Jika tak ada apapun selain jerami di dunia ini, apa gunanya menganugerahkan padaku begitu banyak api?
Sungguh memalukan meluluhkan sekeping kaca. Meluluhkan batu karang, itulah pekerjaan yang sebenarnya, sepantasnya!
bahkan iblis pun enggan dengan seorang lemah daya upaya akan mujahadah dan cita-citanya. Sampai membaca ini berkali-kali:
Kumohon dari-Mu seseorang yang berani menolak ku. Tunjukan padaku untuk mendapatkan hamba Tuhan yang semacam itu. Kubutuhkan seorang yang akan membekuk batang leherku. Seseorang yang berkata 'pergilah dari muka ku!'
Seseorang yang dimatanya dua butir jewawut pun tak berharga diriku. Beri aku, ya Tuhan, insan yang benar-benar beriman seorang saja. Siapa tahu aku akan mengenal kegirangan dalam kekalahanku pada akhirnya."
bahkan iblis pun...
"...Ya Tuhan penguasa mereka yang benar dan tidak benar, menyertai insan telah membuat kami memar, tiada sekalipun mereka pernah memberontak terhadap kekuasaanku, telah dipejamkannya matanya merenungkan dirinya namun tidak juga ia menemukan dirinya.
Debunya sama sekali tak mengenal kesukaan membangkang, tak mengenal pancaran harga diri yang cemerlang. Binatang buruan itu berkata pada pemburu: 'tangkap aku!'
Hindarkan diriku, ya Tuhan, dari hamba yang kelewat patuh itu! Bebaskan aku dari binatang buruan yang demikian itu.
Ingatlah akan kepatuhanku dimasa lalu.
Cita-citaku yang mulia lewat dirinya telah terhina, duhai malangnya diriku, malangnya!
Wataknya belum matang, ketetapan hatinya mudah digoncang, penuh raga. Lawanku ini tak dapat menahan satu pukulan saja dariku. Kubutuhkan hamba Tuhan yang berpenglihatan lantang, kubutuhkan lawan yang lebih matang!
Ambilah kembali barang permainan dari air dan lempung ini, bagi orang dewasa tak cocok mainan kanak-kanak ini.
Apakah insan? segenggam jerami. Sepercik api diriku cukup untuk segenggam jerami. Jika tak ada apapun selain jerami di dunia ini, apa gunanya menganugerahkan padaku begitu banyak api?
Sungguh memalukan meluluhkan sekeping kaca. Meluluhkan batu karang, itulah pekerjaan yang sebenarnya, sepantasnya!
Aku telah menjadi sedih dengan segala kemenanganku.
Sehingga hamba pun menghadap pada-Mu kini mengharapkan ganti rugi semua itu.
Kumohon dari-Mu seseorang yang berani menolak ku. Tunjukan padaku untuk mendapatkan hamba Tuhan yang semacam itu. Kubutuhkan seorang yang akan membekuk batang leherku. Seseorang yang berkata 'pergilah dari muka ku!'
Seseorang yang dimatanya dua butir jewawut pun tak berharga diriku. Beri aku, ya Tuhan, insan yang benar-benar beriman seorang saja. Siapa tahu aku akan mengenal kegirangan dalam kekalahanku pada akhirnya."
(beliau ngutip dari buku "Javid Namah (kitab keabadian)" karya Iqbal)
Ina, boleh widya ikut membantu menafsirkan? Ini tentang iblis yang heran melihat "insan" begitu mudah dibelokkan dan dijerumuskan.. T,T
Ceritakan padanya na, tentang hebatnya kita.. walau batu karang menghadang jalan, bersama kita terjang. InsyaAllah. SemangkA :)
Ketersambungan Rasa
Ini hanya sebentuk pengingat
diri pribadi. Maka perkenankan seorang dhaif ini berbagi. Afwan, yang
menuliskan tak lebih baik dari yg membaca..
Ihsan dan amalan dalam kesendirian adalah alasan orang shalih/ah dicintai banyak orang..
Seperti biasa ukh, ribuan petuah begitu lancar keluar dari lisan ini. Mudah-mudahan Allah ampuni, kadang lidah saja yang begitu licin bertutur, padahal alangkah jauh realisasi dalam panggung aksi.
Orang shalih, bahkan, ia tak perlu bercerita tentang amalannya, tapi begitu mengena. Tatap mata saja menyejukkan, geraknya saja menggerakkan. Ah mereka selalu menggetarkan. Dan rahasianya, barangkali cukup jujur pada diri sendiri dan jujur pada Allah swt. Lalu kita melihat, betapa sesama pemilik hati jernih akan memiliki ketersambungan rasa. Merasakan muraqabatullah menuntun kita menuju kebaikan yang lebih baik.
Lalu seorang sahabat agak berkesah: "tapi saya melakukan apa saja itu diketahui orang lain. Shalat malam tetap ada yang tahu."
Sahabatku, amalan kesendirian itu bukan selalu amalan yang sembunyi-sembunyi dari keramaian. Bahkan kita mampu melakukannya di tengah keramaian. Isi pikiran dan isi hati adalah amalan kesendirian yang hanya Allah dan kita yang tahu..
Lalu, masih meluncur lagi kalimat-kalimat di antara kita, ujarmu: "walau begitu, tetap ada saat kita harus menunjukkan amalan agar menjadi warna bagi sekitar.."
Kalau yang ini, kita saling bersepakat :)
Dan jujurlah pada Allah, jujur pada diri sendiri. Dalam ranah kesendirian, isi hati dan pikiran.. Semangat berishlah, memperbaiki langkah yang mungkin saja sempat tersalah.. Satu lagi, amalan kesendirian adalah alasan utama yang membuat setiap pertemuan kita diberkahi dan penuh hikmah.
Sahabat, aku belajar memahami diriku, bersamamu. Tahu tidak hari ini apa yang terindah? Rabithah dilatari langit merah ^^
Karena Allah, aku mencintai kalian..
Ihsan dan amalan dalam kesendirian adalah alasan orang shalih/ah dicintai banyak orang..
Seperti biasa ukh, ribuan petuah begitu lancar keluar dari lisan ini. Mudah-mudahan Allah ampuni, kadang lidah saja yang begitu licin bertutur, padahal alangkah jauh realisasi dalam panggung aksi.
Orang shalih, bahkan, ia tak perlu bercerita tentang amalannya, tapi begitu mengena. Tatap mata saja menyejukkan, geraknya saja menggerakkan. Ah mereka selalu menggetarkan. Dan rahasianya, barangkali cukup jujur pada diri sendiri dan jujur pada Allah swt. Lalu kita melihat, betapa sesama pemilik hati jernih akan memiliki ketersambungan rasa. Merasakan muraqabatullah menuntun kita menuju kebaikan yang lebih baik.
Lalu seorang sahabat agak berkesah: "tapi saya melakukan apa saja itu diketahui orang lain. Shalat malam tetap ada yang tahu."
Sahabatku, amalan kesendirian itu bukan selalu amalan yang sembunyi-sembunyi dari keramaian. Bahkan kita mampu melakukannya di tengah keramaian. Isi pikiran dan isi hati adalah amalan kesendirian yang hanya Allah dan kita yang tahu..
Lalu, masih meluncur lagi kalimat-kalimat di antara kita, ujarmu: "walau begitu, tetap ada saat kita harus menunjukkan amalan agar menjadi warna bagi sekitar.."
Kalau yang ini, kita saling bersepakat :)
Dan jujurlah pada Allah, jujur pada diri sendiri. Dalam ranah kesendirian, isi hati dan pikiran.. Semangat berishlah, memperbaiki langkah yang mungkin saja sempat tersalah.. Satu lagi, amalan kesendirian adalah alasan utama yang membuat setiap pertemuan kita diberkahi dan penuh hikmah.
Sahabat, aku belajar memahami diriku, bersamamu. Tahu tidak hari ini apa yang terindah? Rabithah dilatari langit merah ^^
Karena Allah, aku mencintai kalian..
Kisah Yang Tak Pernah Salah
Sebelumnya: WARNING!
Tulisan ini hanya boleh dibaca akhwat, penulis tidak bertanggung jawab atas efek samping yang ditimbulkan tulisan ini ^^
Assalamu'alaikum cantik :p
Tulisan ini tidak akan sendu kelabu mengharu biru, tapi akan ceria penuh warna dan cinta. Inginnya begitu, karena katamu tulisan ku terlampau "menyedihkan". Maka ingin mempersembahkan warna lain untuk seorang sahabat yang selalu setia. Apa kabar hari ini? Ini note yang ke berapa? Aku tidak tahu. Hanya jujur saja, sudah lama..sangat lama ingin menuliskan sesuatu tapi tak bisa. Khawatir terkuak sebuah maha rahasia di antara kita. Rahasia cinta dua insan yang berusaha memulia: Widya-Rosa.
Dalam surat cinta dari sahabat manapun, selalu ada maaf dan terimakasih. Aku tentu saja tak suka jika tulisan ini menjadi tulisan yang biasa, ia harus cetarrrr membahana.
Ingat saat pertama kali menyalami tanganmu. Jawaban lembut atas tanya ku. September kala itu, ketika takdir telah terencana menyusun kisah di antara kita.
Dan episode terbaik..Kita berdiri menghadapNya, tangis menggerimis kita berdua. inget gak? :)
Entah sudah berapa bilangan detik berlalu di antara kita berdua. Masih merepotkanmu. Ya, aku memang sangat suka merepotkanmu. Masih dengan rengekan gak penting, ajakan beli es krim, atau pisang ijo yang kamu tetap bergeming.
Widya jahat, rosa baik. Widya banyak ngeluh, sedang rosa selalu bersyukur. Rosa yang keren.. Pokoknya widya sayang rosa..rosa yang peka, yang setia, gak pernah ninggalin, suka marah sama widya yang seenaknya. Jazakillah rosa..uhibbuki fillah. Cukuplah apa yang ada di antara kita, menjadi rahasiaNya. Bahwa kita pun menjalin ini karenaNya. Dari sahabatmu, saudarimu, yang bangga menatap keteguhan langkahmu dan lembut jiwa. Tetaplah begitu, sampai kapanpun. Sampai kita berpisah, lulus, dan punya cerita masing-masing. Sampai kita bertemu lagi, dengan semangat yang tetap selalu ada untukNya. Bahkan dengan hal sederhana, dengan lelah yang tak penat mengintip hikmah kisah. Dan pasti, Dia tak pernah salah..
Afwan y ros, ini entah apa :'(
Maafin widya T.T
Sayang kak Ros..tralala, sya laalalaa..
(kapan ya akan terulang, sore-sore ngajak rosa ke kampus..)
:')
Tulisan ini hanya boleh dibaca akhwat, penulis tidak bertanggung jawab atas efek samping yang ditimbulkan tulisan ini ^^
Assalamu'alaikum cantik :p
Tulisan ini tidak akan sendu kelabu mengharu biru, tapi akan ceria penuh warna dan cinta. Inginnya begitu, karena katamu tulisan ku terlampau "menyedihkan". Maka ingin mempersembahkan warna lain untuk seorang sahabat yang selalu setia. Apa kabar hari ini? Ini note yang ke berapa? Aku tidak tahu. Hanya jujur saja, sudah lama..sangat lama ingin menuliskan sesuatu tapi tak bisa. Khawatir terkuak sebuah maha rahasia di antara kita. Rahasia cinta dua insan yang berusaha memulia: Widya-Rosa.
Dalam surat cinta dari sahabat manapun, selalu ada maaf dan terimakasih. Aku tentu saja tak suka jika tulisan ini menjadi tulisan yang biasa, ia harus cetarrrr membahana.
Ingat saat pertama kali menyalami tanganmu. Jawaban lembut atas tanya ku. September kala itu, ketika takdir telah terencana menyusun kisah di antara kita.
Dan episode terbaik..Kita berdiri menghadapNya, tangis menggerimis kita berdua. inget gak? :)
Entah sudah berapa bilangan detik berlalu di antara kita berdua. Masih merepotkanmu. Ya, aku memang sangat suka merepotkanmu. Masih dengan rengekan gak penting, ajakan beli es krim, atau pisang ijo yang kamu tetap bergeming.
Widya jahat, rosa baik. Widya banyak ngeluh, sedang rosa selalu bersyukur. Rosa yang keren.. Pokoknya widya sayang rosa..rosa yang peka, yang setia, gak pernah ninggalin, suka marah sama widya yang seenaknya. Jazakillah rosa..uhibbuki fillah. Cukuplah apa yang ada di antara kita, menjadi rahasiaNya. Bahwa kita pun menjalin ini karenaNya. Dari sahabatmu, saudarimu, yang bangga menatap keteguhan langkahmu dan lembut jiwa. Tetaplah begitu, sampai kapanpun. Sampai kita berpisah, lulus, dan punya cerita masing-masing. Sampai kita bertemu lagi, dengan semangat yang tetap selalu ada untukNya. Bahkan dengan hal sederhana, dengan lelah yang tak penat mengintip hikmah kisah. Dan pasti, Dia tak pernah salah..
Afwan y ros, ini entah apa :'(
Maafin widya T.T
Sayang kak Ros..tralala, sya laalalaa..
(kapan ya akan terulang, sore-sore ngajak rosa ke kampus..)
:')
Jejak
Tidak semua yang tertangkap
mata itu seperti itu kenyataannya. Kadang kita butuh bertanya, atau
mencari tau, dimana saja. kalau tak mampu tabayyun, meneliti kebenaran,
menjadi kewajiban untuk meluruskan lintasan pikiran. Pekerjaan lancang
bagi siapa pun untuk hanya melihat seseorang dari tampil luaran, marah
meriah sampai dijadikan status atau catatan sindiran. Karena kata
seorang tepercaya: "takwa itu letaknya di sini, di sini, di sini."
(menunjuk ke hati)
..maka saudara saudari, jangan menghakimi :')
Pernah saya peragakan pada seorang kawan: "di sini, di sini, di sini." Sambil ternyata berkaca-kaca tak sengaja. Penah ada yang memeragakan juga di hadapan saya pribadi: "takwa itu letaknya di sini, di sini, di sini." Lalu kata-katanya itu terhenti jadi air mata, dia bergetar sendiri.
..maka saudara saudari, jangan menghakimi :')
Kalau lah tak mampu bertanya, sederhanakan dengan baik sangka. Bening nurani. Tidak pantas bagi kita menakar-nakar. Apa yang letaknya 'di sini' itu.
Dan untuk yang tersangka. Bukan mereka tak percaya atau terlalu buruk duga, tapi percaya atau tidak,, jejak kemaksiatan itu terbaca oleh mata para pecinta kebenaran.
Jejak kemaksiatan itu tak tersembunyikan. Begitupun jejak kebaikan, akan mampu dirasa orang sekitar kita tanpa perlu berbusa-busa.
Duhai diri,, jejak yang manakah kiranya ?
..maka saudara saudari, jangan menghakimi :')
Pernah saya peragakan pada seorang kawan: "di sini, di sini, di sini." Sambil ternyata berkaca-kaca tak sengaja. Penah ada yang memeragakan juga di hadapan saya pribadi: "takwa itu letaknya di sini, di sini, di sini." Lalu kata-katanya itu terhenti jadi air mata, dia bergetar sendiri.
..maka saudara saudari, jangan menghakimi :')
Kalau lah tak mampu bertanya, sederhanakan dengan baik sangka. Bening nurani. Tidak pantas bagi kita menakar-nakar. Apa yang letaknya 'di sini' itu.
Dan untuk yang tersangka. Bukan mereka tak percaya atau terlalu buruk duga, tapi percaya atau tidak,, jejak kemaksiatan itu terbaca oleh mata para pecinta kebenaran.
Jejak kemaksiatan itu tak tersembunyikan. Begitupun jejak kebaikan, akan mampu dirasa orang sekitar kita tanpa perlu berbusa-busa.
Duhai diri,, jejak yang manakah kiranya ?
Langganan:
Postingan (Atom)

Follow Us
Were this world an endless plain, and by sailing eastward we could for ever reach new distances