Papa

Di perjalanan ke kantor, lamunan terbang sampai ke rumah. Sampai pak Hanif bertanya: "bapak kamu kelahiran tahun berapa ?"

63 pak, kalau mama 68.. Jawab saya sambil tersenyum. Kok bisa sama isi pikiran tentang orangtua dg pertanyaan pak Hanif.

"Sama kayak saya dan istri"

Di hari yang sama di perjalanan pulang, macet di jalanan Jakarta. Menangkap wajah bapak yang tak tau mengapa membuat menangis diam-diam sepnjang jalan. Bayangan papa mengantar ngaji, melepas pergi..
Berapa kali lagi harus widya mengecewakan papa? Papa sayang, doakan widya..besok diklatnya lancar mudah-mudahan. Dan segalanya dimudahkan

Dakwah dan Keluarga

Kata sang guru..orang yang baik itu pertama sekali seharusnya bisa menularkan kebaikan pada orang sekitarnya, terutama keluarga. "Buat keluarga kita memahami maksud baik kita, minimal mereka paham dg cita-cita kita"

Salutlah pada orang yang mampu mengondisikan keluarganya. Bukan hanya sekedar koar-koar di luar, tapi kemudian tak berkutik pada komunitas terdekatnya sendiri..khususnya keluarga.

Allah,,, mampukan kami dg perintahMu: Quu anfusakum wa ahlikum naara. Bahkan untuk menjaga diri dari neraka dgmencoba meninggalkan perkara adat dunia yang mungkin saja tak ada faidahnya di mataMu..
Karena keluarga adalah mereka yg bisa menerima diri kita, seutuhnya.

Bersama Para Penjaga Wahyu

Walaqad yassarnaa Al Quraana lidz dzikri, fahal min muddakir  (QS. Al Qamar : 17, 22, 32, 40)


Bahkan Allah ulangi empat kali jaminan serta garansi kemudahan menghapal Al Quran dalam surah Al Qamar (juz 27). Dalam Mukhayam Quran Akhwat Nasional akhir Agustus lalu, ust Abdul Aziz bercerita tentang juz 27.

Siapapun yang pernah mencoba menghapal juz 27 pastilah merasakan bahwa juz ini termasuk juz yang ramah karena ada beberapa surat yang sudah familiar seperti Ar Rahman dan Al Waqi'ah :)

Awalnya Ad Dzariyat, lalu Ath Thuur, kemudian An Najm. Biasanya sesampai di Al Qamar akan sedikit kewalahan. Al Qamar menjadi bonus mujahadah bagi para penghapal karena cukup terbilang sulit. Ketika menyetorkan surat ini di An Nashr kepada ustadzah Ari, saya diminta lebih memperhatikan huruf 'ra' di akhir ayat, mana yang tasydid mana yang bukan. Agar lebih hati-hati dan teliti membedakan mana yang harusnya dibaca lebih ditekan mana yang biasa saja, belum lagi tafkhim tarqiqnya. Hmm, memang Al Qamar itu sesuatu :')

Selain itu, Al Qamar ini banyak bercerita tentang azab. Dan untuk menyelingi azab para umat terdahulu itulah Allah selipkan berita kemudahan menghapal Quran. Seharusnya kita heran, ketika berpeluh-peluh menyempurnakan hapalan Al Qamar tapi Allah katakan mudah. Kita bisa jadi bingung, terengah-engah melafal Al Qamar justru Allah tekankan berkali-kali bahwa itu mudah.


Tapi benarlah, setelah merasa berdarah-darah melancarkan Al Qamar, lalu Allah hibur dengan surah selanjutnya Ar Rahmaan..'Allamal Quraan. Seketika kita bergumam, Allah, Engkau tak menyalahi janjiMu. Hamba sampai di surah ini, sejuuk
Hingga berulang kali dalam surah itu ditanyakan "maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"


di lingkaran kami semasa kuliah, sang murabbi berkisah. Ibunda Yoyoh Yusrah yang bertemu ummahat Palestina ditanya: "berapa jumlah anakmu?"
Wajar karena memang para ibu di sana saling berlomba membanyakkan anaknya untuk diwakafkan di jalan dakwah.
"tiga belas orang" jawab ibu Yoyoh.

kemudian ditanya lagi: "berapa jumlah hapalanmu?"
ibu Yoyoh : "20 juz" ketika itu hapalannya baru dua-pertiganya Quran.

"dua puluh juz? apa saja kerjamu di negeri seaman Indonesia?" sengat sang ummahat Palestina. Tanya retoris yang begitu menyentak ibu Yoyoh dan mungkin siapa saja yang ada di nusantara ini. Ibu Yoyoh segera menuntaskan hapalannya.

Ibu Yoyoh, srikandi dakwah negeri ini telah berpulang. Dakwah ini terus menanti kelahiran permata dakwah baru. Malulah kita pada almarhumah yang jumlah anaknya 13 orang. Kita belum dititipi amanah seberat beliau tapi amal kita masih jauuhhh. Malu juga pada saudara kita di Palestina, dengan segala kenyamanan di negeri ini masih terlalu berpandai-pandai membuat berjuta pembenaran atas kealpaan kita.

dan terlebih, malu pada Allah yang bertanya Maha retoris..

Walaqad yassarnaa Al Quraana lidz dzikri, fahal min muddakir ?
And We have certainly made the Qur'an easy for remembrance, so is there any who will remember ?

disusul tanya lain berikutnya: maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?"

#AYTKTM
Apapun Yang Terjadi, Kita Tetap Menghapal

Perlahan, menyabar-nyabarkan diri.. Yuk, melangkah berangkat menghapal Quran karena percaya pada janji Allah, juga karena sebentuk rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan.

Maka,

Jangan tanyakan "kenapa sih kita harus menghapal ?" tapi tanyakan "kenapa kita masih malas-malasan menghapal ?"

-disambut adzan Magrib bumi minang, alhamdulillah..

Bahagia Diatas Bahagia

Seorang kakak luar biasa pernah mengingatkan: "bahkan maksiat-maksiat kita masih saja berbalas karuniaNya"
 
Karunia. Satu kata yang oleh kita telah menyempit maknanya. karunia seolah-olah hanya terbatas pada apa yang disukai dan membuat bahagia. padahal karunia itu semuanya. segala yang membuat kita semakin dekat denganNya layak disebut karunia. Tetap bernama karunia, walaupun ia datang dalam wujud airmata.
 
Semoga kita tak pernah lelah belajar rela pada Allah...

"Tak mengapa, duhai Allah, asalkan ini membuat kami semakin merasa kecil di hadapanMu.."

Ibu Jelita

Pernah diberi hadiah cantik oleh senior di Rumah Quran STAN, sebut saja namanya mb Ocky :) Catatan Hati Seorang Istri. Setelah membacanya, kak Linda bilang: kakak paling suka cerita yang ini. Kalau widya suka yang ini kak. Sampai Atika menunjukkan bagian cerita yang paling berkesan.

Kalau tidak salah ingat, ada kalimat di dalam cerita favorit Atika: "Dulu, kupikir hal paling membahagiakan itu adalah menikah dengannya. Menyerahkan kepemimpinan atas diriku kepadanya. Menggenapkan separuh agama. Ternyata ada hal yang jauh lebih membahagiakan di atas itu; ketika aku bertaruh nyawa melahirkan janin dari rahimku. Jihadnya seorang ibu."

Kurang lebih gitulah, bagian paling disukai Atika.

Tadi pagi sms dari seorang sahabat: udah masuk 9 bulan, ammah. Doakan yaa
Rasanya lama tak bertemu, batal hadir di hari dia dinikah. Mengurungkan niat menulis bait-bait selamat karena kecewa tak jadi bisa bermalam sebelum ia menjadi seorang istri. Dan sebentar lagi, sudah akan resmi menjadi ibu. Teringat materi ustadz Salim A Fillah di Stania Fair menggarisbawahi bahwa sabda nabi yang mengatakan surga di bawah telapak kaki ibu, bukan di bawah telapak kaki perempuan. Ada syarat bagi seorang perempuan untuk mempunyai surga: menjadi ibu.

Bertandang ke rumah seorang kakak usai TKD kemarin, binar di wajahnya juga sama. Menghitung hari menjelang kelahiran buah hati yang dinanti. Ada satu hal yang sedang belajar saya pahami; mengapa ketika di sana ada perjuangan yang berat dan pengorbanan yang besar, mereka justru menantinya?

Ibu.

Benarlah yang mengatakan Dan belum sempurna jelitamu sahabat, sebelum mengalahkan seribu sakit berhimpun, tulang berlolosan, syaraf tercabik, robekan pedih, darah bersimbah, namun tetap tersenyum untuk janin yang kau lahirkan. Subhanallah, bila ini ukuran cantik itu sahabat, takkan ada kata yang mampu saingi oleh jelita-jelita surgawi itu selamanya.

Untuk para ibu dan calon ibu, selamat berjuang.. Mencoba memahami dari harap cemas penantiannya, mencoba ikut meresapi perasaan seorang calon ibu. Walau mengerti, tentu masih belum mampu benar-benar menyelami kedalaman jiwa mereka.

Dan yang belum akan jadi ibu, semoga kita bisa memaksimalkan birrul walidain pada ibu di rumah. Membahagiakan ibu untuk segenap pengorbanan dan kasih sayangnya.

ibu.

Dakwah Yang Kucinta

Kuliah Munakahat bersama ustadz Masturi dulu, ada wejangan beliau: "jangan sekali-kali mencintai secara membabi buta. Babi saja sudah haram, apalagi babi buta"


kawan-kawan, ini tentu bukan kode atau sedang galau. Hanya belakangan sering membaca artikel yang khawatirnya melemahkan semangat tulus beberapa sahabat. Dengan informasi yang melimpah ruah, kalau tidak disaring benar-benar akan membuat kepala pusing. Dan kesemuanya sangat mempengaruhi cara kita memandang secara proporsional dan objektif.

Dalam bincang dengan seorang kakak, beliau cerita kalau dulu sangat anti dengan training motivasi dulunya. Menganggap bahwa hal tersebut hanya sebatas teori tanpa aksi. Tetapi suatu hari hingga kini, beliau malah menjelma menjadi seorang training motivator. "Karena kakak sudah punya pemahaman baru tentang itu, dek.."

Berkaca pada diri sendiri atau mengingat beberapa kawan, ternyata memang segala sesuatu itu bisa berubah. Dulu orang yang kita kenal keras tiba-tiba bisa menjadi seorang lembut. Siapa yang dulunya benci bisa menjadi cinta, begitupun sebaliknya.. Dinamis. Kita tanpa sadar sering menilai seseorang tidak konsisten dalam bersikap dan berucap. Banyak hal dalam dirinya berubah, yang kita lupa bahwa beliau menemui banyak peristiwa apa yang berangsur-angsur akhirnya merubah seratus delapan puluh derajat pemikiriannya.

Kadang diri pribadi juga tak jarang begitu..

Ada sakit menjalari hati saat merenungi hijrah seseorang dari ghirah menuju futurnya.. Seketika tersentak, kini memang yang paling ampuh itu hanya introspeksi, barangkali banyak yang tak betah dengan dakwah karena mereka tak merasakan kesejukan tarbiyah dalam pribadi saudara/saudarinya. Dan biarkan semua menjadi rahasia Allah hingga semua kita terus berusaha semakin membaik dari masa ke masa.

Pernah ada yang mendengar ada yang memaki Umar bin Khattab habis-habisan dengan sangat kasar. Ketika diintip, ternyata Umar sendiri yang sedang memaki dirinya.. Ah kita, dengan segala macam alasan dan pembenaran, pastilah ada satu titik dimana kita bisa jujur introspeksi menghakimi dan memuhasabahi hati. Dalam ruang yang hanya kita denganNya.

Seperti cerita Ustadzah Hani di Ma'had Tarbiyah dulu, masih Umar, ketika pendapatnya sering berbeda dengan Rasulullah dan Abu Bakr. Tapi akhirnya Allah turunkan wahyu langit yang justru membenarkannya.. Ditariknya janggutnya di dagu, menyendiri berkaca-kaca sembari bertanya: "Allah, sebenarnya siapa diriku ini ?"

Dalam miris menyimak curhatan seorang kawan, saya titipkan doa..

Allah, maafkan, ampuni.. jika ada saudara saudari kami yang lari dan tak betah karena gerah dengan diri yang gersang ini..